Tuesday, September 2, 2025

Siapa Brian Berletic ?

 

thecommunists.org/2022/1...

Berikut adalah foto Brian Berletic, seorang analis geopolitik independen—juga dikenal sebagai tokoh di balik Land Destroyer dan The New Atlas.


Siapa Brian Berletic?

Latar Belakang & Identitas

Alasan Menggunakan Nama Samaran

– Memakai nama pena “Tony Cartalucci” untuk melindungi identitas dan keluarganya dari potensi serangan atau stigma yang muncul akibat kritiknya terhadap kebijakan AS (Khaosod English).


Jejak Karier & Platform

  • Land Destroyer Report: Blog awal yang digunakan sejak lebih dari satu dekade lalu untuk kritik terhadap intervensi AS di Asia Tenggara (WikiSpooks, Patreon, Geopolitics and Empire).

  • The New Atlas: Platform baru yang sekarang digunakan untuk menampilkan tulisan dan video analisis secara lebih terbuka, setelah identitasnya terungkap (Patreon, Natylies Baldwin).

  • Konten & Media: Lebih dari 2.500 artikel dan 700 video—menyelidiki peran media, US NED (National Endowment for Democracy), 'color revolutions', dan konflik global seperti Ukraina, China, dan Suriah (Tntradio Live, Geopolitics and Empire, TheAltWorld, WikiSpooks).


Perspektif & Fokus Geopolitik

Kritik terhadap AS dan "Western Hegemony"

Israel, China, Rusia, Ukraina, dan Suriah

  • Melihat konflik Ukraina sebagai 'perang AS melalui proxy' melawan Rusia, dengan tujuan memperpanjang konfrontasi geopolitik (WikiSpooks, TheAltWorld).

  • Membahas China sebagai rival kekuatan multipolar, dan AS merencanakan strategi untuk membendungnya sebelum mencapai supremasi ekonomi/militer di 2030-an (WikiSpooks).

  • Mengulas bagaimana media Barat membentuk narasi palsu, misalnya penyajian insiden seperti Bucha atau Uyghur di Xinjiang, untuk mendiskreditkan musuh geopolitik (Geopolitics and Empire, WikiSpooks).


Reaksi Masyarakat & Kontroversi

Pembatasan Platform dan Tuduhan Konspirasi

  • Akunnya di Facebook dan Twitter dihentikan oleh platform karena diduga terlibat dalam "coordinated inauthentic behaviour" (WikiSpooks, Sarawak Report).

  • Ia dituduh sebagai penyebar propaganda dan teori konspirasi tanpa bukti ilmiah yang kuat (Sarawak Report).

Pujian dari Komunitas Opini Alternatif

  • Banyak pengikut di forum-forum independen puji kejelasan analisisnya:

    “Brian Berletic is one of the best geo political analysers in the business. He is articulate and concise…” (Reddit)
    “Brian berletic is a an extremely important voice of truth uncovering the lies and misinformation of the corporate western media and USA deep state…” (Reddit)

  • Komentar juga mencerminkan pandangan kritis terhadap narasi mainstream, meskipun juga ada yang meragukan kredibilitasnya, menyebutnya "keyboard warrior" atau "joke" dalam konteks tertentu (Reddit).


Ringkasan Singkat

Poin Utama Detail
Identitas Brian Berletic (Tony Cartalucci), mantan US Marine, tinggal di Bangkok
Platform Land Destroyer → The New Atlas
Fokus Analisis Intervensi geopolitik AS, propaganda, revolisi warna, konflik besar
Kontroversi Diblokir di media sosial, dituduh teori konspirasi
Pendukung Dihargai di komunitas oposisi media mainstream

Kesimpulan:
Brian Berletic merupakan figur kontroversial dalam lanskap analisis geopolitik alternatif. Dia menghadirkan pandangan kritis terhadap intervensi dan narasi Barat, menggunakan pendekatan investigatif—meskipun skeptisisme terhadap metodologi dan kecenderungan interpretatifnya tetap kuat di sebagian kalangan.


Kerusuhan di Indonesia: Rekayasa AS


https://youtu.be/7XR4905k-gQ?si=BaeOLwEmdBpQBGNL

Tuduhan jurnalis independen barat terhadap AS sebagai otak kerusuhan di Indonesia. 

Transkripsi

Pasukan Barat terlibat dalam kelompok-kelompok anti-pemerintah yang mengguncang Indonesia, seperti yang terjadi di Hong Kong pada tahun 2019. Suara-suara terkeras yang mendukung kekerasan di jalanan Jakarta dan kota-kota lain dalam beberapa hari terakhir berasal dari kelompok-kelompok media independen dan LSM. Banyak dari kelompok ini bermunculan di Indonesia, seperti Remo TV, Project Multatuli, New Narrative, dan lainnya. Tapi apa petunjuk bahwa ada sesuatu yang aneh?

Tentu saja, Anda bisa menemukan orang-orang yang memiliki keluhan terhadap pemerintah mereka di mana saja, tapi cukup marah untuk membakar kota mereka? Di Asia, itu sering kali merupakan tanda keterlibatan AS, kata jurnalis investigasi terkemuka Brian Baletic. Sedikit penggalian menunjukkan bukti jelas bahwa kelompok-kelompok yang mendukung protes telah didukung oleh kelompok turunan CIA yang dikenal sebagai NED dan mitra pendanaannya, seperti Open Society Foundations, yang didirikan oleh miliarder George Soros, yang dikenal karena aktivisme politiknya di seluruh dunia.

Petunjuk lain, awal tahun ini, AS memotong pendanaan untuk operasi propaganda luar negeri, mulai dari USAID hingga Radio Free Asia hingga puluhan lainnya. Sekarang, organisasi-organisasi Indonesia yang sebelumnya mengaku independen mulai mengeluh, mengungkapkan bahwa mereka didanai oleh Washington DC, kata Brian.

Akun media independen Indonesia tentang pemotongan dana AS melaporkan situs berita bernama Mongabay pada bulan Maret tahun ini. Independen, hmm. Teks tersebut menyebutkan, selain Remo TV, outlet media independen, termasuk Project Multatuli dan LSM media New Narrative, mengatakan mereka terkejut dengan berita bahwa pendanaan, dalam beberapa kasus untuk pekerjaan yang sudah selesai, tiba-tiba lenyap. Jadi, ya, orang-orang ini jelas dibiayai oleh AS.

Seperti yang mungkin Anda ketahui, USAID dan Radio Free Asia ditutup, tetapi Kongres kembali mendanai yang paling berbahaya dari semuanya, NED, pada akhir musim semi tahun ini, seperti yang kami laporkan sebelumnya.

Brown lebih lanjut menunjukkan bahwa Project Multatuli mencantumkan donaturnya di situs webnya. Mari kita lihat. Ada Open Society Foundations, unit George Soros. Lalu ada Kurawhal Foundation, yang berasal dari Amerika. Google News Initiative, Amerika. Dan Media and Development Investment Fund. Ya, kelompok Amerika yang didirikan oleh George Soros. Daftar ini juga mencakup Internews, kelompok AS yang juga terkait dengan Soros dan NED secara historis.

Jadi, berdasarkan situs webnya sendiri, Project Multatuli jelas merupakan kelompok aktivisme politik yang dibiayai AS. Tapi, tapi, tapi, Anda bilang kerusuhan itu terlihat spontan dan para pengunjuk rasa tampak memiliki keluhan yang tulus. Ya, tapi ingat, terungkap bahwa ada perencanaan dan persiapan selama bertahun-tahun di Barat sebelum protes di Hong Kong, yang juga terlihat spontan dan tampak memiliki keluhan yang tulus.

Brian menulis, di Indonesia, seperti di Hong Kong, tema brutalitas polisi sedang didorong. Dan selalu ada gambar barisan polisi dengan perisai antihuru-hara dan satu orang, biasanya perempuan, yang menghadapi mereka.

Anda mungkin ingat bahwa awal tahun ini saya membutuhkan waktu tepat 171 detik, secara langsung di depan kamera, untuk menemukan pendanaan tersembunyi AS di balik jajak pendapat yang disebut independen di Moldova. Sekarang, jika jurnalis independen seperti Brian Beletic dan saya bisa mengungkap manipulasi Barat di negara lain hanya dalam hitungan menit, mengapa The New York Times, FT, BBC, dan The Wall Street Journal tidak bisa?

Nah, itu misteri. Salam damai.


========================

Referensi:

1. Project Multatuli


Collaborations

Between May 2021 and December 2022, Project M worked with 30 civil society organizations, some of which were also donors. The collaborations took various forms, including donor-grantee relations (Open Society Foundation, Kurawal Foundation, Google News Initiative, Media and Development Investment Fund), joint financing to cover certain topics (AJAR, Jatam), and partnerships in producing reports that served the marginalized and held those in power accountable (Trend Asia, Greenpeace Indonesia, Change.org, Market Forces).

We also worked with 20 local, regional, national, and international media outlets to report on high-risk issues. The collaborations aimed to share the risks and expand the impact of the reporting. The topics ranged from the Yogyakarta Sultanate’s land ownership to migrant worker trafficking in Batam.

https://projectmultatuli.org/en/about/kolaborasi/

2. RemoTivi : https://www.remotivi.or.id/

3. Siapa Brian Berletic?

 https://daringnet.blogspot.com/2025/09/siapa-brian-berletic.html?m=1






Thursday, August 28, 2025

Nas dan Yuval Harari tentang Ateisme

 


Dua orang Israel.. Yang satu Palestina, Islam. Yang lain Yahudi yang pindah ke "agama baru", ateisme. Berbincang mengenai itu.

Nas: Saya menghabiskan satu bulan penuh untuk mempelajari “agamanya,” yaitu ateisme.

Yuval: Halo, nama saya Yuval Noah Harari dan saya seorang ateis. Saya tidak percaya pada Tuhan.

Nas:

Tapi saya percaya. Jadi, apa yang bisa saya pelajari darinya?

Selama sebulan penuh, saya membaca buku-buku ateis, saya berbicara dengan para sarjana ateis, bahkan saya naik pesawat dan bepergian jauh ke sebuah pulau terpencil di tengah lautan, di sini…

untuk mempelajari satu burung ini. Ya, inilah burung yang menginspirasi jutaan ateis. Hanya satu burung di Kepulauan Galapagos. Inilah burung itu di alam liar. Bisa lihat? Indah sekali.

Tapi pertama, sedikit latar belakang.

Saya sedang menjalani tantangan enam bulan untuk mempelajari enam agama besar, satu setiap bulan: Buddhisme, Hinduisme, Yudaisme, Kristen, Islam, dan bahkan Ateisme.

Inilah yang saya pelajari dari Ateisme.

Pertama-tama, ateisme bukanlah agama. Saya setuju. Tapi ia adalah sebuah gerakan. Lebih dari 1 miliar orang adalah ateis. Mereka tidak percaya pada agama. Banyak dari mereka justru percaya pada sains.

Yuval: Saya pikir menjadi orang baik tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Kamu bisa percaya, bisa tidak percaya, tidak masalah. Menjadi orang baik berarti membebaskan diri dan orang lain dari penderitaan.

Nas. Gerakan ateis meledak pada tahun 1850-an ketika buku ini diterbitkan. Judulnya The Origin of Species karya Charles Darwin.

Darwin adalah seorang ilmuwan Inggris yang berlayar selama lima tahun untuk mempelajari dunia. Suatu hari, kapalnya tiba di pulau-pulau terpencil Galapagos, Ekuador.

Di sana, Charles Darwin melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat bahwa burung yang sama berubah sesuai dengan pulau tempat ia hidup. Di satu pulau, burung ini memiliki paruh besar dan memakan tumbuhan. Di pulau lain, burung yang sama memiliki paruh kecil dan bukan vegetarian.

Bentuk burung berubah sesuai lingkungannya. Hal ini mengejutkan Darwin.

Mengapa burung itu berevolusi? Saat itulah Darwin membuat penemuan terbesarnya.

Ia menemukan bahwa hewan tidak lahir dalam keadaan sempurna. Hewan berevolusi seiring waktu. Sayap, warna, dan ukurannya berubah dari generasi ke generasi agar bisa bertahan hidup. Dan jika hewan berevolusi,

mungkin manusia juga. Mungkin kita tidak lahir sempurna seperti Adam dan Hawa. Mungkin manusia berevolusi dari kera. Banyak perubahan kecil menciptakan perubahan besar. Jadi jika orang bertanya, “Dari mana asal manusia?” Kita tidak muncul dari satu momen ajaib ketika Tuhan menciptakan manusia. Selama miliaran tahun, banyak sekali perubahan kecil yang terjadi.

Itulah bagaimana Darwin menemukan teori evolusi.

Teori ini mengguncang dunia. Ia bertentangan dengan semua ajaran agama. Bertentangan dengan Kekristenan. Bertentangan dengan Islam. Tapi teori Darwin didasarkan pada bukti yang bisa diukur dan dilihat dengan mata kepala sendiri. Teori itu membuat orang semakin kurang percaya pada agama dan lebih percaya pada sains.

Hal itu membuat ateisme berkembang pesat. Walaupun ateisme sudah ada jauh sebelum Darwin.

Muslim memiliki Al-Qur’an dan Kristen memiliki Alkitab.

Nas (bertanya kepada Yuval):

Apa kitabmu?

Yuval:

Alam semesta ini. Darwin misalnya pergi ke Galapagos dan mempelajari seekor burung.

Siapa yang tahu misteri apa lagi yang bisa kita temukan jika kita mempelajari pohon ini, atau batu ini, atau kupu-kupu ini.

Sains lebih baik dalam memberi jawaban karena ia berani mengakui kesalahannya.

Orang berpikir bahwa jika kamu mengubah pendapatmu, itu artinya kamu lemah.

Tapi dalam sains, jika kamu mengubah pendapatmu, itu artinya kamu semakin dekat pada kebenaran.

Nas:

Saya pikir itulah yang paling saya sukai dari Ateisme. Bahwa kamu bisa hidup tanpa jawaban sempurna. Kamu bisa menerima bahwa ada hal-hal yang tidak kamu ketahui. Kamu bisa menunggu sains untuk menemukan jawabannya.

Saya seorang yang beriman. Tetapi satu bulan belajar Ateisme membuat saya lebih rendah hati.

Membuat saya sadar bahwa mungkin, hanya mungkin, saya juga bisa salah.

Itulah yang bisa kita pelajari dari satu burung di Galapagos.




Tuesday, August 19, 2025

Penarikan udang Indonesia di AS

 


Penjelasan tentang kasus recall udang radioaktif dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods) asal Indonesia di Amerika. 


1. Bagaimana Kasusnya?

  • Pada 19 Agustus 2025, FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat mengeluarkan recall (penarikan) terhadap udang mentah beku merek Great Value yang dijual di Walmart di 13 negara bagian AS. Alasannya: potensi kontaminasi Cesium-137, isotop radioaktif.(AP News, People.com)

  • Deteksi awal dilakukan oleh U.S. Customs and Border Protection (CBP) di beberapa pelabuhan—termasuk Los Angeles, Miami, Houston, dan Savannah—yang menemukan Cs-137 dalam beberapa kontainer pengiriman dari BMS Foods.(AP News, Food Safety News)

  • FDA kemudian mengambil sampel. Satu contoh udang breaded diuji positif Cs-137, meskipun levelnya jauh di bawah batas intervensi FDA (1200 Bq/kg). Namun, FDA tetap menganggap bahwa paparan berkepanjangan terhadap dosis rendah dapat meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang.(AP News, Food Safety News, cbsnews.com)

  • Lot yang ditarik mencakup kode: 8005540-1, 8005538-1, dan 8005539-1, dengan tanggal “best-by” 15 Maret 2027. Produk ini dijual di Walmart di negara bagian seperti Texas, Florida, Pennsylvania, dan lainnya.(AP News, People.com, The Economic Times, The Sun)

  • FDA juga memberlakukan import alert, melarang masuknya semua produk dari BMS Foods ke AS hingga masalah teratasi.(The Sun, People.com, Food Safety News)


2. Dari Mana Udang Tersebut Diambil?

Udang tersebut diimpor dari Indonesia, khususnya diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati, yang menggunakan merek dagang BMS Foods. Produk tersebut dikemas sebagai Great Value dan dikirim ke Walmart di AS.(AP News, newsweek.com, Food Safety News)


3. Apakah Udang Ini Juga Dijual di Indonesia?

Tidak ada indikasi bahwa udang yang ditarik ini juga beredar di pasar Indonesia. Studi dan tindakan yang dilakukan fokus pada pengiriman ke AS dan belum ada laporan tentang distribusi di dalam negeri. Namun, untuk keamanan, otoritas pangan Indonesia—seperti BPOM—umumnya akan memantaunya dan melakukan pengecekan jika ada potensi risiko serupa.


4. Udang Besar vs Kecil: Mana yang Lebih Banyak Terkena Kontaminasi Secara Teoretis?

Tidak ada data spesifik tentang perbandingan antara udang besar dan kecil dalam kasus ini. Namun secara teori:

  • Cesium-137 cenderung tersebar secara merata dalam jaringan lunak, menyerupai potasium. Jadi, ukuran udang (besar atau kecil) kemungkinan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kontaminasi per beratnya.(Wikipedia)

  • Jadi, kontaminasi lebih tergantung pada kondisi pengolahan, bukan ukuran individu udang.


5. Bagaimana Cara Masyarakat Indonesia Berjaga-jaga?

Sebagai masyarakat Indonesia, meskipun tidak ada bukti produk yang sama beredar di sini, langkah berjaga-jaga yang disarankan:

  1. Cek Label dan Asal Produk
    Hindari membeli produk yang berasal dari BMS Foods, dan pastikan ada label asal yang jelas jika membeli udang beku impor.

  2. Pantau Informasi Resmi
    Ikuti update dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) atau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) via situs resmi atau media pemerintah untuk memastikan keamanan produk impor.

  3. Perhatikan Kebersihan dan Penyimpanan
    Pilih produk yang terjamin kebersihannya, dan simpan sesuai instruksi. Jika mencurigai produk tidak layak, sebaiknya tidak dikonsumsi.

  4. Diversifikasi Konsumsi
    Mengurangi risiko dengan tidak mengandalkan satu produk dalam diet secara berlebihan, terutama produk impor.

  5. Hubungi Profesional Kesehatan Bila Perlu
    Bila merasa khawatir atas paparan radioaktif (terlepas dari kasus ini), konsultasikan dengan penulis.


Ringkasan Singkat

  • Kasus: Recall udang beku Great Value karena Cs-137 terdeteksi di satu sampel.(AP News, People.com, Food Safety News)

  • Asal: Diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods), Indonesia.(AP News, newsweek.com)

  • Indonesia: Belum ada bukti produk ini diedarkan di Indonesia. Belum diketahui di mana udang ditangkap.

  • Ukuran udang: Tidak menjadi faktor kontaminasi secara teoritis.

  • Untuk masyarakat Indonesia: Jangan terlalu sering makan seafood sampai masalah jelas. 


Monday, July 21, 2025

Blackmore dituduh. Vitamin B6




Blackmores Dituduh: Kandungan Vitamin B6 Terlalu Tinggi. Class Action di Australia?

Oleh: Dr. E. Nugroho

Baca catatan paling bawah. Itu terpenting.

Di Australia, nama Blackmores sudah lama dikenal sebagai produsen suplemen kesehatan terpercaya. Tapi belakangan ini, perusahaan itu sedang jadi sorotan. Produk mereka yang cukup populer, Blackmores Super Magnesium+, dituduh mengandung kadar vitamin B6 yang terlalu tinggi — bahkan berpotensi membahayakan.

Sejumlah konsumen di Australia mengaku mengalami gejala seperti kesemutan, mati rasa di tangan dan kaki, bahkan gangguan saraf, setelah mengonsumsi suplemen tersebut secara rutin. Gejala-gejala ini dikenal dalam dunia medis sebagai neuropati perifer, dan bisa disebabkan oleh kelebihan vitamin B6 (piridoksin), terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dan jangka panjang.

Apa yang Terjadi?

Blackmores Super Magnesium+ mengandung 50 mg vitamin B6 per tablet — jauh di atas kebutuhan harian normal yang hanya sekitar 1–2 mg untuk orang dewasa. Meski dosis ini masih berada di bawah batas maksimal harian yang diizinkan di Australia (100 mg), beberapa ahli mulai mempertanyakan: apakah ambang batas ini benar-benar aman? 

Beberapa pengguna mengaku mereka mengonsumsi produk ini sesuai petunjuk di label — namun tetap mengalami efek samping yang cukup serius.

Munculnya Gugatan Class Action

Dengan semakin banyaknya laporan serupa, kini muncul wacana adanya class action — gugatan hukum bersama yang diajukan sekelompok orang dengan keluhan serupa. Firma hukum Carbone Lawyers di Melbourne, misalnya, telah mengumpulkan data dari para konsumen yang merasa dirugikan oleh produk ini. Mereka mempertimbangkan untuk membawa kasus ini ke pengadilan.

Jika class action benar-benar diajukan, maka ini bisa menjadi salah satu gugatan terbesar di Australia yang melibatkan produk suplemen. Kasus ini bisa membuka kembali perdebatan soal regulasi vitamin dan suplemen di Australia, yang selama ini tergolong longgar dibandingkan obat-obatan.

Apa Kata Pihak Blackmores?

Hingga saat ini, Blackmores menyatakan bahwa semua produk mereka telah lolos uji keamanan dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh regulator kesehatan Australia, yaitu Therapeutic Goods Administration (TGA). Mereka juga mengingatkan bahwa semua suplemen harus dikonsumsi sesuai petunjuk, dan sebaiknya atas saran tenaga kesehatan.

Namun pernyataan ini belum memuaskan sebagian konsumen — terutama mereka yang merasa efek samping muncul meski mereka sudah mengikuti petunjuk pemakaian dengan benar.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa suplemen pun bisa punya efek samping. Banyak orang mengira karena dijual bebas dan terkesan “alami,” maka suplemen pasti aman. Padahal, jika tidak hati-hati, dosis berlebih vitamin atau mineral tertentu justru bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Untuk masyarakat umum, berikut beberapa tips sederhana:

  • Konsultasikan dulu dengan dokter sebelum rutin mengonsumsi suplemen.

  • Baca label dengan seksama dan perhatikan dosis harian. (Ini selalu disebut orang. Tapi kamu tahu yang kamu baca? Hehehe... )

  • Jika muncul gejala aneh seperti kesemutan, lemas, atau gangguan saraf, segera hentikan penggunaan dan periksakan diri.

Kasus Blackmores ini masih berkembang. Tapi satu hal sudah jelas: saat bicara soal kesehatan, hati2 lah. Ini selalu lebih baik daripada penyesalan.


Catatan penting:

  1. Jangan minum vitamin suplemen terlalu banyak. 
  2. Kalau ada masalah kesehatan karena diduga kurang vitamin atau mineral, boleh minum dosis tinggi sesuai brosur selama 1 - 2 minggu. Kalau benar penyakit karena kekurangan zat tadi, seharusnya ada perbaikan, bukan? Kalau sudah membaik atau sembuh, minum dosis standar alias dosis kecil. Untuk vitamin B6 dosis 1 - 10 mg boleh lah. 
  3. Kalau dalam 1 bulan neuropati tidak ada perbaikan, kemgknan besar itu bukan defisiensi vitamin B. Atau ada
    • Diabetes
    • Sindroma malabsorpsi, usus tidak bisa menyerap zat tertentu
    • Penyakit autoimun
    • Toksin, dll. 
    • atau kerusakan saraf telah permanen, dsb. Dokter saraf bisa memeriksa lebih lanjut.
Beberapa produk dengan vitamin B6 dosis tinggi (menurut Alodokter.com)
  1. Neurobion
  2. Neurodex
  3. Dll. 
Vitamin ini berguna sekali kalau kamu bener2 kekurangan/defisiensi vitamin B. Tapi jangan minum bertahun2 terus menerus.

Terpenting

  • Tuduhan dan  class action TIDAK BERARTI tuduhan itu bener. Juga sekali pun Blackmore kalah di pengadilan nanti.
  • Di negara barat orang sering melakukan class action untuk cari duit. Dan  itu duit gede ‼

Saturday, July 19, 2025

Otopsi jenderal2 korban G30S - Bagian 2. Habis

 Bagian 2


Dr. Liauw Yan Siang: Tak Ada Penyiksaan Terhadap 6 Jenderal (Bagian-2 Selesai)

Print Friendly, PDF & Email

Dr. Liaw Yan Siang. Foto oleh Alfred Ticoalu

 

Di sini disebutkan ada saksi-saksi yang mengidentifikasikan mayat-mayat tersebut. Seperti misal Jenderal Yani dikatakan bahwa ‘Majat diidentifikasikan oleh Major CPM Soedarto […]’. Identifikasi itu terjadi pada saat…,?

Sebelum pemeriksaan dimulai. Karena saya harus memeriksa mayat yang ada identification-nya. Waktu saya ke sana semua mayat itu masih belum di-identified. Baru setelah mayat pertama dikeluarin tuh, nah saya ingat ada yang untuk menentukan oh ya ini bener ini si anu.

Nah saya nggak kenal tuh semua orang-orang yang identify the generals. Kalau saya sih nggak bisa, saya nggak kenal jenderal-jenderal itu. Saya nggak kenal Mayor CPM Soedarto. Orang-orang militer tuh…, jangan katakan Soedarto, Suharto sendiri kalau datang ke situ waktu itu saya nggak tahu siapa.

 

Tapi ada kemungkinan Suharto itu sebenarnya datang sesuai perkataan Dr. Lim[25] Tapi Oom nggak mengenali?

Ada kemungkinan dia ada di situ. Oh ya, waktu itu nggak ada satu yang saya kenal, kecuali si Frans Pattiasina. Kertopati saya nggak kenal. Rasanya istrinya yang saya kenal, tapi Kertopati-nya ya belum pernah ketemu ingetan saya itu.

Waktu itu ada keluarga-keluarga dari jenderal-jenderal apa tuh. Udah…, wah, pokoknya yang nutupin mulut, lihat-lihat ini, mau buru-buru. Nah itu ingatan saya udah serawutan gitu tuh. Nggak tahu siapa-siapa deh yang datang di situ. Tahu-tahu ada jenderalnya, atau kapten, atau apa, nggak inget, atau mayor [tertawa].

 

Jadi saksi-saksi ini datang, waktu mereka mengidentifikasikan, Oom ada di sana nggak?

Ada. Saya nggak inget lagi detilnya deh. Tapi saya inget ada yang datang sebelum saya mulai, memeriksa dulu. Itu saya inget.

 

Mengenai jenazah-jenazah tersebut, apakah Oom masih ingat siapa yang Oom kerjakan? Maksudnya yang Oom lakukan otopsi siapa saja?

Ya semua jenderal-jenderal menurut ingatan saya.

 

Oom berani kasih jaminan tentang hal tersebut? Oom mengatakan saya sendiri berarti pribadi tanpa bantuan orang lain?

Ya.

 

Nah, saat itu yang melakukan otopsi siapa saja jadinya? Karena laporan ini mengatakan bahwa kelima-limanya melakukan otopsi.

Karena saya nggak lihat aslinya ini [menunjuk kopian laporan otopsi]. Jadi yang melakukan otopsi itu cuma saya sendiri. Dan itu Tendean, Dr. Lim sendiri yang periksa. Yang lain nggak.

 

Sekarang begini. Dr. Lim waktu diwawancara oleh majalah D&R bilang bahwa Jenderal Suharto hadir pada saat otopsi. Dia mengatakan Professor Sutomo pun hadir. Bahkan Roebiono pun hadir di otopsi ini dan mengatakan dia ikut melakukan otopsi tersebut. Komentar Oom bagaimana?

Prof. Sutomo saya tahu pasti tidak, karena kesehatannya sudah mundur. He was not in a condition to do any kind of work like that.

 

Jadi Roebiono pun nggak?

Ohhh, Roebiono itu bukan patolog!

Saya ingat Roebiono, istrinya saya kenal. Ko-asisten bersama-sama. Nggak inget nama istrinya. Yang saya inget karena kita sama-sama ko-asisten tuh. Kalau ko-asisten kan nginepnya tuh malem tuh rame-rame situ. Kalau lagi makan kumpul…, kita ngobrol deh di situ. Nah makanya dengan istrinya Aidit, saya kenal. Boleh bilang ya kenal baik juga tuh. Kalau waktu jam makan kita rame-rame di ruangan ko-asisten [ketika mereka semua sebagai ko-asisten fakultas kedokteran Universitas Indonesia].

Tapi ini yang mengerjakan cuma saya berdua. Dengan Dr. Lim Joe Thay.

 

Walau saya pernah dengar dari seseorang bahwa dia (maksudnya Roebiono Kertopati) itu mungkin ahli kedokteran kehakiman.. Apa betul dan apa Oom pernah dengar hal itu?

Kertopati? Tidak!

 

Kalau boleh tahu, apakah ada surat perintah? Apakah Oom dapat surat secara resmi yang menunjuk Oom untuk mengerjakan ini?

Di sana [Indonesia] nggak pakai formil seperti di sini [Amerika]. Pokoknya diminta oleh Prof. Sutomo untuk mengerjakan itu. Ya sudah.

 

Jadi Oom dipilih oleh Prof. Sutomo sendiri untuk melakukan ini. Apakah Prof. Sutomo juga melakukan otopsi?

Oh nggak. Waktu itu dia sudah ada penyakitnya. Jadi dia nggak bisa. Kan dia nggak lama kemudian kan meninggal. Entah penyakit apa. Dia pernah ke Amerika Serikat juga untuk berobat. Penyakit apa saya nggak tahu tuh. Saya nggak berani nanya [tertawa].[26]

Waktu yang pertama dia masih di situ. Dia lihat saya lagi mengerjakan, lagi dictate, segala apa. Terus nggak lama lagi dia pulang. Dia nggak bisa diem di situ terus.

 

Kalau Frans Pattiasina ada juga di sana?

Kalau Frans Pattiasina sampai terakhir dia ada di RSPAD. Tapi dia tidak mengerjakan.

 

Yakin 100%?

Ya terang dong [tertawa], saya yang mengerjakan semua, bagaimana…, Frans Pattiasina sewaktu-waktu muncul lantas ngilang lagi.

 

Apakah Oom ditunjuk ini ada unsur pemaksaan? Asumsi kami kelompok ini secara khusus dibentuk dan pikiran kami mungkin ada pemikiran matang di balik penunjukkan anggota kelompok ini.

Lho, itu kan sudah tugas kok. Saya kan dosen fakultas kedokteran. Jadi otomatis bagian kedokteran kehakiman itu. Kalau nggak siapa yang harus kerjakan? Professor Sutomo itu kan atasan saya. Jadi kalau dia yang menyuruh saya…, kan saya nggak bisa bilang, ah nggak mau.

Professor Sutomo yang dapat tugas untuk pemeriksaaan ini. Tapi karena saya tahu Professor Sutomo itu kesehatannya tidak mengijinkan, maka dia ajak saya untuk periksa mayat-mayat ini. Dan lagian dia tahu bahwa saya dengan Dr. Lim satu-satunya yang competent untuk pemeriksaan ini. Kita yang memang dikirim ke luar negeri. Otomatis tentu kita berdua yang ditugaskan untuk ini.

 

Apakah Oom ada gambaran perintah ke Professor Sutomo itu kira-kira keluar dari siapa?

Cuma tahu tentu dari bagian militer, tentu yang berkuasa waktu itu. Nggak tahu siapa.

 

Kan Frans Pattiasina hadir dan dia dari Angkatan Darat juga. Menurut Oom bagaimana itu?

Oh, kita nggak ada ngomongin-ngomongin siapa yang kasih perintah ini dan itu. Nggak ada waktu untuk begitu.

 

Apakah diburu-buru?

Bukannya mereka yang buru-buru. Kita yang buru-buru mau lekas selesai. Karena keadaan sudah begitu bau. Kondisi mayat-mayat itu demikian. Kalau mau lama-lama tanya ini-itu, sedangkan sudah waktu saya pulang ke rumah. Ini Tante nih [istri beliau; beliau menunjuk ke arah istrinya duduk saat itu]. Kalau mau tukeran ke kamar mandi harus lewatin kamar tidur. Udah saya di kamar mandi, udah tukeran apa. Balik-balik Tante bilang aduh kok masih bau amat nih kamar. Karena baunya itu mayat tuh nggak hilang. Bagaimana mau tunggu-tunggu lagi?

 

Kalau boleh sekarang bicara sedikit tentang kondisi mayat. Waktu pertama kali Oom tiba, tadi Oom bilang masih di dalam peti. Apakah ada komentar secara umum atau spesifik? Apa yang melintas di kepala Oom waktu itu?

Yang saya inget yang pertama itu iya ada di dalam peti. Peti terbuka. Nah itu mayatnya sudah melembung, keluar gas-gas campur darah itu. Karena Oom sudah biasa ya, mayat ya mayat saja.

Saya tahu bahwa di surat-surat kabar itu jenderal-jenderal itu disiksa, dianiaya segala. Disiksa apa itu. Dari sebab itu saya mau cari apa benar ada bukti-bukti itu atau nggak. Antara lain matanya dicukil segala. Nah waktu itu saya lihat kok nggak ada yang dicukil matanya?

 

Oom bisa tahu dan ambil kesimpulan itu bagaimana?

Karena bukan pertama kali saya periksa mayat yang sudah busuk begitu. Jadi saya tahu keadaan mayat yang sudah busuk itu seperti apa organ-organnya. Jadi kalau ada mata yang dicukil itu kan kelihatan meski sudah busuk juga. Jadi kalau sudah stadium apa, tuh, dia kempes lagi karena gasnya sudah keluar. Nah itu kulit yang ngelotok itu berapa lama. Setelah sekian lama nyoplok semua. Yang keluar apa. Semua kan ada tanda-tandanya.

[Ketika berbicara di telepon beberapa hari kemudian, Oom Yan Siang menjelaskan lebih lanjut komentar soal mata tidak dicukil itu. Kalau mata dicukil bisa terlihat ada tergores di tulang sekitar rongga mata (socket) atau bola mata ada cacatnya. Tidak demikian situasinya dengan mayat-mayat tersebut. Seingat dia semua bola mata ada dan lengkap. Kalau tidak ada atau hilang karena dicukil, harus dinyatakan di laporan otopsi tersebut.]

 

Sekalian kita omong agak mendetil sedikit. Katanya mereka dapat siksaan. Ada yang matanya dicongkel keluar, digunakan pisau atau silet dipotong-potong badannya. Diberet-beret. Bahkan ada yang mengatakan sampai kemaluannya dipotong. Sesuai laporan yang saya baca ini nampaknya tidak ada hal-hal demikian.

Nggak ada.

 

Secara detil, bagaimana dengan hal pemotongan kemaluan?

Nggak ada. Semua utuh.

 

Saat ini pembicaraan terhenti sejenak karena anak perempuan Oom Yan Siang mengajak kami semua makan siang.

 

Maaf tadi terputus sebentar. Kembali ke soal kemaluan.

Nggak. Semua utuh.

 

Oom lihat sendiri?

Oh iya dong! Kita periksa kan nggak bisa, apa…, sebagian aja kan. Seluruhnya dari kepala sampai ke ujung kaki.

Yang ini…, yang setelah saya baca lagi [laporan otopsi] salah satu itu yang kakinya patah atau itu…, [yang dimaksud Jenderal S. Parman]. Nah itu. Itu saya lupa sama sekali tuh. Soal itu tuh. Kok kakinya…, kakinya patahnya bagaimana itu, tapi ada description-nya di sini. Cuma patah…, itu saya sudah banyak yang sudah nggak inget deh tuh.

 

Apa mungkin patah karena dipukul?

Nggak tahu tuh. Atau kegiling atau apa. Saya lupa tuh. Waktu saya baca kok ada yang kakinya patah nih ya waktu itu. Karena sekaligus sekian banyaknya mayat yang saya dictate itu, nggak bisa keingatan semua. Waktu baca lagi juga pun nggak inget.

Sambil melihat laporan Letnan P. Tendean.

Tuh ada tiga luka karena kekerasan tumpul.

Nampaknya beliau melihat laporan otopsi yang lain namun saya tak bisa melihat secara jelas yang mana dari posisi saya saat itu.

Oh ya, ada yang kepalanya lagi…, nggak tahu dipukul atau apa ya nggak tahu tuh. Juga ada yang kepalanya pecah tuh…,

 

Kan misalnya Jenderal Pandjaitan. Itu kan ditembak pas di kepalanya. Apakah itu yang Oom maksud pecah?

Nggak tahu [tertawa], nggak inget. Karena itu pemeriksanaan luar tuh jadi kita nggak bisa trace kalau ada, misalnya, ada peluru. Kan peluru juga nggak masuk terus tembus keluar begitu. Tergantung bagaimana traject-nya, bisa sampai yang tembakan keluarnya itu bikin pecah. Itu juga bisa. Dari itu kalau ngak ada pemeriksaan dalam ya kita cuma bisa sebut oh ya ini…,

 

Jadi Oom mengatakan sekarang bahwa tidak ada pemeriksaan dalam?

Tidak.

 

Mengapa tidak ada, Oom?

Di sana (Indonesia] lain . Pemeriksaan itu…,

Saat ini pembicaraan terhenti sejenak karena beliau diperlukan oleh istrinya.

 

Kita lanjutkan lagi, maaf tadi terputus. Tadi kita ngomong mengenai masalah tidak dilakukannya pemeriksaan dalam. Mengapa?

Di Indonesia itu memang alasan-alasan dari keluarga. Pihak keluarga itu biasanya karena agama itu tidak mengijinkan mayat itu dipotong. Jadi hanya pemeriksaan luar saja yang harus dilakukan. Maka kita, sebagai patolog, nggak punya kekuasaan untuk melakukan pemeriksaan dalam.

 

Jadi itu sudah merupakan sebuah peraturan? Atau apakah ada dapat perintah hanya pemeriksaan luar? Pemeriksaan dalam tak perlu, begitu?

Bukannya nggak perlu. Pemeriksaan dalam setiap pemeriksaan forensik itu harus pemeriksaan dalam. Tapi sering kali kalau pihak keluarganya tidak setuju, kita tidak bisa meneruskan.

 

Dalam hal kasus otopsi tujuh korban ini, itu yang terjadi apa? Apakah memang ada permintaan dari keluarga? Atau inisiatif dari Oom sendiri sebagai seorang patolog? Atau memang dapat perintah tak perlu?

Oh, memang sudah diberitahukan oleh Dr. Frans Pattiasina. Sebagai dokter RSPAD dia sebenarnya yang dikuasakan untuk memeriksa. Tapi karena dia bukan forensic pathologist…, saya…, itu dugaan saya ya, maka minta Professor Sutomo sebagai ahli untuk memimpin pemeriksaan itu. Dan dari termula udah diberitahukan hanya pemeriksaan luar.

 

Apakah Oom ada rasa curiga?

Bukannya curiga sih. Memang sudah kebiasaan di sana itu…, kalau ada yang berpangkat, policy tidak berkuasa lagi. Jadi itu yang berpangkat itu yang menguasai apa yang boleh, apa yang tidak boleh.

Sedangkan dengan keadaan-keadaan yang biasa pun ya, waktu masih di fakultas kedokteran tuh, misalnya kecelakaan lalu-lintas…, ya itu hanya orang biasa yang tersangkut. Kalau famili kata nggak mau pemeriksaan dalam, hanya luar, ya kita nggak bisa memaksakan. Karena siapa yang mau menjamin…, menjamin dokter yang memeriksa mayat kalau ada kejadian apa-apa. Kalau mereka menentang…, dia ngamuk, kita yang diserang. Siapa yang mau membela [tertawa]?

 

Jika kita baca laporan ini, ada bagian kesimpulan. Menurut Oom sendiri apakah kesimpulan itu cukup conclusive menyatakan apa penyebab kematian?

Kalau banyak yang masuk lukanya, kemana-kemana kita nggak tahu. Misalnya sini ada luka masuk, ini ada lagi, sini ada lagi, atau di sini ada luka-luka keluar (sambil menunjuk beberapa posisi di tubuh beliau sendiri), jadi hubungannya satu dengan yang lain dengan pemeriksaan luar saja tidak bisa kita menentukan dengan pasti. Jadi sebab matinya ya by exclusion. Tadinya sehat ya ditembak ya udah [tertawa]. Dus it was the wayby exclusion.

Kalau memangnya tadinya sakit berat, nah itu…, kalau ada liver damage karena penyakit, ya itu lain lagi. Tapi kalau tadinya orangnya sehat, ya ada luka-luka tembak…, yang dipentingkan pada waktu itu ya penganiayaan itu.

 

Bicara soal penganiayaan, kalau dikatakan mereka dapat siksaan, pendapat Oom sendiri setelah melakukan otopsi tersebut dan melihat secara mendetil, pandangan Oom bagaimana?

Ya kalau nggak ada luka tusuk, nggak ada luka iris, nggak ada cungkilan-cungkilan apa, mutilasi, nggak ada, ya konklusi saya ya nggak ada juga. Hanya yang itu, yang luka tumpul, nah itu saya nggak tahu.

 

Ada dari beberapa laporan ini jelas mengatakan ada luka tusuk. Di bagian abdomen perut, di belakang bagian tubuhnya. Kami berpikiran itu kemungkinan bayonet…,

Ada kemungkinannya…,

 

Apakah Oom ingat bahwa luka tusuk itu ada? [merujuk laporan otopsi Jenderal M.T. Harjono]

Nggak. Cuma saya ingat waktu membaca ini. Tapi udah nggak inget lagi apa bener ada luka tusuk itu. Tapi kalau menurut di sini, ya tentu seharusnya ya ada [tertawa].

 

Oom berani kasih jaminan, kalau ada di sini, karena Oom yang melakukan otopsi itu pasti benar-benar ada?

Lho ini kan salinan…, kalau membaca lagi ini menurut saya sih pasti ada luka tusuk itu. Luka tumpul, kekerasan tumpul juga ada. Tapi apa yang menyebabkan itu [luka tumpul] nggak tahu itu, karena keadaan sudah busuk begitu.

 

Jadi kalau ditanyakan penyebabnya apa [luka tumpul], Oom nggak bisa jawab. Tapi kalau ditanyakan eksistensi luka-luka tersebut, Oom berani mengatakan ada.

Oh iya.

 

Kalau sekarang ditanyakan, mereka mati gara-gara disiksa. Pendapat Oom bagaimana?

Nggak tahu. I don’t know.

 

Kalau sekarang ditanyakan, mereka mati karena ditembak? Menurut Oom bagaimana?

Oh iya. Kalau ada luka tembak ya karena ditembak [tertawa].

 

Kalau sekarang saya tanyakan ke Oom, mungkin nggak mereka disiksa dulu baru ditembak berdasarkan pengamatan Oom?

Sampai di mana penyiksaan itu…, karena penyiksaan itu kan bisa juga dengan, apa tuh…, sesuatu yang tidak tampak setelah orangnya meninggal. Bisa kan. Kalau misalnya pakai listrik, apa itu…, mayatnya sudah busuk mana ada tanda-tanda lagi? Jadi tergantung penyiksaan caranya bagaimana. Kalau matanya dicukil ya kelihatan kan. Tapi kalau, penyiksaan dengan alat-alat yang tidak menyebabkan tanda, ya nggak bisa dibilang.[ saat ini beliau mengulas teori forensik secara umum, dia tidak menyatakan para korban disiksa dengan listrik.]

 

Kalau sekarang kita ambil versi resmi militer saja ya, yang mengatakan penyiksaan ada sebagai berikut: dipukuli, matanya dicukil, kemaluan dipotong, tubuhnya dipotong-potong, dibeset-beset dengan pisau silet atau pisau kecil. Begitu. Ini versi resminya mereka. Kalau menurut Oom?

Kalau dipukulin aja lantas ditembak ya, tanda-tandanya nggak kelihatan dong. Ini tergantung interval itu dari waktu dipukulnya sampai ditembaknya. Kalau hanya dalam 1-2 menit, itu pemukulan itu nggak menyebabkan pendarahan di bawah kulit kan. Tapi kalau melewati beberapa jangka waktu itu baru ada pendarahan di bawah kulit yang kelihatan. Jadi itu interval itu juga kita nggak tahu. Apalagi kalau sudah busuk, semuanya warnanya sudah hampir hitam. Jadi seandainya ada pendarahan, sudah nggak bisa dilihat deh.

 

Untuk kepastiaan…, soal siksaan. Yang matanya dicukil, digunakan pisau atau silet dipotong-potong badannya, kemaluannya dipotong. Ada tidak?.

Nggak ada.

 

Ada yang dilaporkan patah tulang. Kami berteori mungkin karena dimasukkan atau dijatuhkan ke dalam sumur yang dalamnya 12 meter. Kalau dibilang itu gedung, setidaknya itu dua, tiga sampai empat lantai. Apakah itu bisa menyebabkan patah tulang tersebut?

Nggak tahu lagi ya. Patah tulangnya kok, kenapa…, Wah saya sudah ngak inget deh tuh patah tulangnya. Nggak ada itunya sih tuh ya, X-ray-nya tuh. Seandainya kalau dia dilempar dari atas dia jatuh, kok kenapa cuman…, rasanya cuma satu kakinya yang patah tuh [saat ini beliau merujuk ke hasil pemeriksaan Jenderal S. Parman]. Itu anehnya. Apa waktu saya baca lagi ini, apa dia kegiling mobil? Tapi nggak ada tanda-tandanya. Yah sudah busuk sih ya, nggak ada tanda-tanda.

 

Kalau ditanya dalam konteks ‘mungkin’ [apakah mungkin karena jatuh ke dalam sumur]?

I don’t want to commit myself, in that case.

[dalam perbincangan kami yang sesudahnya lewat telepon, saya menyentuh kembali soal patah atau remuk tulang ini. Khususnya saya ingatkan beliau hasil laporan otopsi Jenderal Soeprapto, S. Parman, dan Soetojo. Beliau menekankan kembali bahwa masalahnya tidak dikerjakan x-ray saat itu. Karenanya dia tidak bisa tahu patah tulangnya itu seperti apa persisnya. Melihat dan menganalisa hasil x-ray kemungkinan dapat membantu lebih memperjelas keadaan.]

 

Mengenai kasus Jenderal M.T. Harjono, di perut dan punggung ada luka tusuk. Kalau Oom memikirkan lebih dalam, luka ini apakah mungkin disebabkan oleh silet?

Di sini beliau menggelengkan kepala, dus penulis berkata, “Gelengan kepala Oom saya maksudkan sebagai tidak, ya?” dan kemudian dia memberikan anggukan kepala.

Nggak. Nggak mungkin.

 

Kalau misalnya seperti belati atau bayonet?

Kalau itu sih mungkin aja. Kalau bayonet, kalau luka tusuknya itu. Segimana lebarnya ini? Kasih lihat itunya, ukurannya apa.

Saat ini kami tarik keluar halaman otopsi Jenderal Harjono dan membaca bagian pemeriksaan luka tusuk itu: bagian pemeriksaan luar, nomor 6.

Oh bekas operasi dong…,

Beliau sedang berbicara sendiri tentang penjelasan bagian pemeriksaan luar, nomor 5. Nampaknya dia mulai membaca dari bagian itu di halaman tersebut. Baru kemudian dia mulai membaca nomor 6.

Berukuran tiga setengah centimeter, pinggir luka. Tiga setengah centimeter tuh…, dalamnya bagaimana ya [maksudnya kedalaman luka]. Nah itu tuh susahnya tuh ya. Cuman ukuran, cuman satu. Keluar jaringan usus besar, mestinya masuk ke dalam. Kalau luka silet ya…, kalau luka silet tentu lebih luas panjangnya sampai keluar ususnya. Kalau ini luka tusuk ya bisa juga bayonet atau pisau. Tiga setengah centimeter segini…,

Beliau menggunakan ruas-ruas jari telunjuknya untuk memperkirakan kelebaran tiga setengah centimeter itu.

 

 Dokumen visum et repertum. Koleksi oleh Alfred Ticoalu

 

Kalau Oom diminta mengambil kesimpulan dari keadaan luka ini. Apakah mungkin ini mati karena disiksa dengan silat atau pisau kecil yang mengakibatkan luka tersebut. Mungkin tidak?

Nggak.

 

Walaupun kita sekarang agak sedikit kurang data mengenai kedalaman luka, kalau kita lihat secara umum?

Silet sih nggak mungkin ini.

 

Saya gunakan kata ‘silet dan pisau kecil’ tersebut karena itulah yang digunakan di media massa. Seperti contohnya artikel di koran Api Pantjasila,[27] Gerwani ‘dibagi-bagikan pisau kecil dan pisau silet’, seperti demikian. Hal tersebut juga dibahas dalam tulisannya Professor Ben Anderson. Asumsi kita pisau kecil itu ya…, pisau silet seperti silet merek gillette ya.

Beliau celetuk, “Pisau kecil, seperti pocket knife.”

 

Jadi bisa dikatakan bahwa luka sebesar itu tidak mungkin disebabkan oleh senjata yang sebesar itu?

Kalau silet rasanya sih nggak tuh. Tapi kalau pisau kecil…, apa ada orang perempuan yang nusuknya demikian kuatnya pakai pisau kecil [tertawa]?

Oh iya, tadi ada telepon dari…,

 

Bincang-bincang terhenti sejenak karena beliau pergi sebentar untuk menanyakan sesuatu ke istrinya di ruangan belakang.


Apakah Oom setuju kalau dikatakan, selain Jenderal Haryono, mereka semua tewas karena luka tembak?

Kalau menurut kedokteran kehakiman, kita nggak memberi sebab kematian kalau hanya periksa luar. Tapi kalau menurut logika ya, selain itu ya apa lagi yang bisa menyebabkan kematiannya? Selain luka tembak. Kan ya nggak ada ya. Dus berdasarkan logic ya memang matinya karena itu. Karena luka tembak. Tapi kalau menurut…, scientifically you have to do a complete examination to determine the cause of death.

 

Yang mana, pada saat otopsi itu dilakukan, apakah hal tersebut terjadi? Pemeriksaan secara keseluruhan yang sangat conclusive untuk meyimpulkan kematiannya?

Karena mereka tidak memerlukan waktu itu. Yang diperlukan itu apa ada penganiayaan atau nggak, menurut dugaan saya sih. Dan menurut anggapan mereka itu sudah, it’s obvious. Dengan hasil-hasil pemeriksaan itu sudah jelas sebab matinya itu karena luka tembak. Mereka tidak memerlukan lagi pemeriksaan dalam [‘mereka’ di sini maksudnya yang berwenang saat itu, dus pihak atasan militer yang ada di RSPAD saat itu].

 

Jadi kesimpulannya, sekali lagi, apakah ada penyiksaan?

Saya nggak bisa buktikan ada penganiayaan. Jadi menurut saya nggak ada.

 

Oom mendengar berita mengenai penyiksaan itu sebelum atau sesudah otopsi?

Sebelum otopsi. Di surat kabar-surat kabar, sudah diberitakan.

 

Jadi maksud Oom sebelum tanggal 4 Oktober kan? Atau 4 Oktober pagi? Mungkin tanggal 3? Tanggal 2?

Wah, saya nggak tahu. Nggak inget. Karena apa, Bung Karno itu minta ini [laporan otopsi] selekas mungkin. Ingatan saya itu karena adanya berita-berita penganiayaan jenderal-jenderal itu. Makanya dia mau menentang desas-desus ini. Bahwa tidak terjadi penganiayaan. Entah apa…, Karena Bung Karno kan kasih pidato sesudah itu kan. Atau pengumuman, atau pidato. Pokoknya mengatakan bahwa penganiayaan itu nggak ada.

 

Karena kalau melihat kembali ke dokumentasi media massa yang ada, dan kebetulan ada saya bawa di sini, secara umum bisa dikatakan begini. Setelah tanggal 1 Oktober, surat kabar yang masih beredar itu adalah dan hanya surat kabar militer: Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha. Dan praktis surat kabar lainnya semua ditutup, mulai dari KompasSinar harapan, dan lain-lainnya. Satu surat kabar, Harian Rakjat – yang ada afiliasi dengan Partai Komunis Indonesia – memang sempat mengeluarkan pernyataan pada tanggal 2 Oktober namun itu tidak ada sangkut-pautnya dengan berita penyiksaan dan sebagainya.

Kebetulan saya ada fotokopinya ini beberapa yang saya bawa. Sebagai contoh saya ambil ini dari Kompas, yang mana mulai tanggal 2 sampai 5 Oktober itu tidak boleh terbit. Terbit kembali pada tanggal 6 Oktober, satu hari sesudah penguburan jenazah-jenazah yang disebut sebagai korban G30S atau Gestapu. Di sini ada berita mengenai penyiksaaan.

Ada juga Sinar Harapan, hal yang sama terjadi koran ini, juga dilarang terbit, dari tanggal 2 sampai 7 Oktober. Terbit tanggal 8 Oktober ini ada kopiannya, Oom bisa lihat.

Beliau berkata, “Aduh, nggak bisa lihat deh. I’m sorry. Too small. Sorry.” Dus penulis bantu bacakan.

 

Ini koran awam ya, bukan koran militer. Sinar Harapan. Halaman pertama, korban teror Gerakan 30 September dan ada 5 foto jenazah yang diambil dari Lubang Buaya. Foto pertama ada fine print-nya, ada title-nya [ket: judulnya Korban Terror “Gerakan 30 September”]. Dikatakan Jenderal Anumerta A. Yani yang kedua matanya dicungkil, jenazahnyanya diikat jadi satu dengan Mayjen Anumerta Soetojo. Kedua korban ini mukanya telah dirusak. Lalu ada tulisan, yang selanjutnya, jenazah Kapten Anumerta Pierre Tendean matanya juga dicungkil dan pada dada kiri dan perut sebelah kanannya terdapat luka besar. Ajudan Menko Kasab ini lehernya juga dirusak. Dan ini keluar tanggal 8 Oktober, sesudah penguburan, sesudah otopsi, dan yang pasti bukan sebelum otopsi.

Dan ini makanya saya hendak mintakan komentar dari Oom. Tadi Oom mengatakan bahwa di media massa sudah tersebar-sebar begitu. Sementara kalau koran umum baru keluar beberapa hari sesudahnya. Komentar Oom mengenai ini?

 [Tertawa] Mungkin saya salah itunya tuh, tanggalnya. Ada kemungkinan juga. Atau kepastian…, karena saya inget di surat-surat kabar itu ada berita-berita yang mayat itu dianiaya.

 

Ini saya ambil contoh lain. Ini Berita Yudha, ini milik Angkatan Darat. Tanggal 4 Oktober dia sudah mengeluarkan penyataan bahwa mereka ini diculik. Nah, bahkan memberikan bagian dari Harian Rakjat dan Warta Bhakti yang memberikan dukungan kepada gerakan Kolonel Untung [ket: faksimili/cetak ulang rupa dari halaman pertama masing-masing surat kabar tersebut]. Tanggal 5 Oktober baru ditulis mengenai keadaan yang sudah dirusak dan ada 6 foto dari pada korbannya itu. Dan tanggal 6 Oktober juga ada dibahas mengenai penganiayaan/penyiksaan, terfokus pada Ahmad Yani.

Juga ada koran Angkatan Bersendjata, tanggal 4 Oktober, mengatakan ditembak mati, mana kuburnya, dan rakyat menuntut.

Apakah saat itu Oom ada akses ke media ini? Apakah langganan koran-koran ini?

Wah, nggak inget deh. Kalau langganan sih nggak. Yang saya langganan cuma apa ya, Sinar Harapan kalau nggak salah.

 

Kalau dikesampingkan dokumentasi media massa ini. Di luaran sendiri bagaimana menurut Oom? Masyarakatnya itu. Apakah ada kayak kabar-kabar burung?

[Tertawa] Oh boy… How do I remember those things. Cuman saya inget di luaran desas-desusnya itu, cuman…, penganiayaan, cungkil mata. Nah itu cuman yang saya inget.

 

Tapi kapan dengarnya?

Wah itu udah ngawur deh tuh [tertawa]. Sudah ngawur deh, I don’t remember [tertawa].

 

Apa Oom pernah dipanggil oleh pihak yang berkuasa, militer, yang berwenang pada saat itu untuk membahas hal ini?

Oh, nggak pernah deh.

 

Nah tanggapan Oom sendiri, pandangan Oom sendiri atas suasana saat itu? Karena menurut wawancara dengan Dr. Lim [majalah D&R], menyatakan bahwa itu penuh ketakutan, kerahasiaan. Seperti ada kesan dipaksa, terburu-buru [Dr. Lim menyatakan ini juga ketika penulis berbicara di telepon dengan beliau]?

Perasaan yang diburu-buru itu cuman karena de groote bung yang mau kepastian tuh. Nah itu menurut Frans Pattiasina kepada saya tuh. Bung Karno mau secepat mungkin hasil pemeriksaan ini supaya dia tahu apa bener ada penganiayaan atau nggak.

 

Antara Oom dan Dr. Lim ada kontak nggak untuk mendiskusikan laporan ini? Dalam waktu dekat itu, dalam masa persiapan laporan ini [saat draft dibahas, yang dibawa Frans Pattiasina ke rumah beliau]?

Nggak [tertawa]. Nggak ada diskusi apa-apa dengan Dr. Lim.

 

Mengapa tidak ada? Bukankah lebih baik, karena kan mengerjakannya bersama-sama. Ada tukar pikiran, begitu?

Kalau ada yang questions, atau questionable itu, mungkin dia tanya itu. Eh ini bagaimana…, tapi ini semua sudah…, apa, facts ya. Apa yang kita lihat, itu yang kita lapor. Bukan seperti in the clinical part [maksudnya membahas sebuah penyakit yang diderita pasien]. Rasanya sih nggak ada discussion apa-apa dengan Dr. Lim

 

Dan juga dengan orang-orang yang lainnya?

Oh ya pasti. Dengan orang-orang yang lain sih pasti nggak dah.

 

Bagaimana dengan orang-orang yang disebut menandatangani ini?

Saya nggak tahu mereka dimasukkan di situ! I was sure that I was the only one responsible untuk memeriksa. Dan setelah selesai pemeriksaan itu saya bilang ke si Frans, Frans you are responsibleyou sign the…, before…., Nah itu saya masih inget. Karena saya takut nanti kebawa-bawa…, saya komunis lagi [maksudnya beliau khawatir dicap komunis]. Nanti mau menutupi itu apa, penganiayaan apa. Untuk membela komunis-komunis. Udah jadi saya nggak…, kasih tahu si Frans supaya dia yang teken [tanda tangan].

 

Seperti yang kita ketahui, laporan ini ditemukan di berkasnya Heru Atmodjo. Digunakan di pengadilan. Apakah Oom pernah misalnya dipanggil sebagai saksi? Untuk meyakinkan bahwa ini yang Oom kerjakan.

Nggak pernah. Dari selama itu tuh sampai sekarang, sebelum saya lihat ini lagi [laporan otopsi] masih saya anggap Frans Pattisiana yang nandatangani. Waktu baru saya baca ini kok semua namanya ada di sini. Mereka ini nggak mengerjakan apa-apa.

 

Kami berpikiran ada seperti indikasi untuk merahasiakan laporan ini. Apakah Oom pernah diminta atau mungkin dipaksa secara verbal untuk tutup mulut?

Nggak. Nggak ada. Oh…, kalau tutup mulut sih itu…, apa…, rahasia jabatan saya. Nggak boleh ngomong apa-apa. Itu bukannya perintah dari atas. Itu memang rahasia jabatan. Jadi bukannya perintah dari atas. Waktu itu saya nggak pernah mengeluarkan pernyataan saya yang memeriksa mayat-mayat itu. Keluarga saya juga tahu kok apa yang saya kerjakan itu rahasia jabatan. Nggak perlu diceritakan ke orang-orang.

 

Oom sebelumnya pernah bilang pindah ke Amerika tahun 1970 ya. Sesudah itu pernah ke Indonesia lagi?

Sudah. Tahun 1978 saya kembali ke Jakarta, jalan-jalan.

 

Pernah nggak Oom ketemu dengan orang-orang ini lagi pas di Jakarta? Roebiono, Sutomo, Frans, …,

Nggak sih. Prof. Sutomo sudah meninggal waktu saya ke sana, tahun 1978 ya. Yang saya ingat setelah selesai pemeriksaan ini, Professor Sutomo antara lain mengatakan tidak percuma saya kirim si Liauw ke Amerika Serikat. Dia baik sekali. Dia lihat hasilnya itu pemeriksaan saya bagus [ket: maksudnya setelah proses otopsi tersebut]. Waktu saya masih ada di sana dia meninggal [‘disana maksudnya di Jakarta, Indonesia]. Saya lupa tuh kapan pastinya.[28]

 

Jadi secara umum bisa dikatakan bahwa Oom tidak ada kontak dengan mereka ya sejak itu?

Nggak.

Bagaimana dengan Dr. Lim?

Oh ya…, sama Dr. Lim saya masih pergi makan-makan segala waktu itu tahun 1978. Dia traktir [tertawa].

Ngomong-ngomong nggak dengan Oom Lim soal otopsi ini saat itu?

Oh nggak…,

Sebelum Oom pindah ke Amerika, selain saat Frans Pattiasina datang koreksi draft bersama Oom, apakah pernah ada yang tanya-tanya soal ini atau datang menanyakan? Bagaimana dengan Sutomo Tjokronegoro, Roebiono Kertopati, Frans Pattiasina sendiri? Apakah mereka sempat tanya lagi?

Oh nggak. Nggak pernah. Nggak pernah disebut-sebut lagi.

Oom ada gambaran tidak laporan ini kemudian perginya ke mana?

No idea!

Jadi sejak itu sehabis Oom kerjakan, that’s the end, buat Oom. Habis perkara buat Oom?

Ya…, iya.

Dipakai untuk pengadilan? Ada punya pandangan, ada pasti atau mungkin digunakan untuk bahan bukti?

Kalau menurut saya sih that’s obviousVisum et repertum ini tujuannya kan untuk dipakai di pengadilan.

 

Terima kasih banyak untuk kesempatan bincang-bincang yang Oom berikan ini. Apa boleh kami gunakan materi ini [maksud penulis hasil dan informasi yang didapat dari bincang-bincang dengan beliau tersebut]?

Oh ya. You can use these materials, ya.

Coba tanya nanti Oom Joe Thay lagi. Apa bener dia periksa sedemikian banyak. You can tell him. Menurut perasaan saya, ingatan saya, dia hanya mengerjakan Letnan Pierre Tendean. Mungkin saya salah [tertawa]. Tapi ingetan saya dari dulu sih, Dr. Lim Joe Thay periksa cuma satu [tertawa]. I might be wrong.

 

Nanti kita lakukan studi banding lagi ya.[29] Bagi saya kesediaan Oom untuk membantu sungguh sudah luar biasa. Sudah sangat bermanfaat sekali bagi kita, begitu. Yang pasti mendapatkan komentar dari orang yang melakukannya.

Saya rasa untuk saat ini sudah cukup dulu, begitu. Mungkin nanti ada perkembangan selanjutnya. Mungkin nanti bisa telepon lagi atau conference call. Terima kasih banyak untuk waktunya. Maaf rencana Oom ke Cleveland [kota di negara bagian Ohio] jadi batal gara-gara hal ini.

[Tertawa] Ayuk dah. Thank you very much.***

 

Bagian pertama wawancaran ini bisa lihat di sini.

 

Catatan: Sesuai pernyataan Dr. Liauw, dia tidak melakukan otopsi jenazah Kapten (Anumerta) Pierre Tendean. Dus perlu diperhatikan secara terpisah pernyataan Dr. Lim di majalah D&R bahwa dia tidak menemukan bukti adanya penyiksaan di jenazah Tendean.

 

———-

[25] Lihat artikel majalah D&R untuk pernyataan ini.

[26] Lihat Memoirs of Indonesian Doctors and Professionals 2, halaman 35. Salah satu bekas murid beliau yang lain, Sutisna Himawan (Thee Kian Hong) menyatakan dia terkena penyakit yang misterius. Di Amerika diperkirakan sesuatu yang seperti collagen disease (penyakit kolagen) tapi tak jelas tipe yang mana. Untuk lebih banyak tentang penyakit ini bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Collagen_disease.

[27] Edisi 6 November, 1965.

[28] Menurut beberapa narasumber yang penulis dapatkan, beliau meninggal 6 Mei, 1969. Lahir tahun 1907 dus berusia 62 tahun saat meninggal [lihat juga Tjien Oei (2010), Memoirs of Indonesian Doctors and Professionals 2. Xlibris Corporation: hal. 35].

[29] Kami sudah rencanakan untuk mewawancarai Dr. Lim Joe Thay secara lebih mendalam. Karena penulis tak dapat ke Jakarta saat itu, dia meminta bantuan rekannya (Stanley Adi Prasetyo) untuk melakukan hal tersebut berdasarkan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan penulis. Ketika penulis menghubungi Dr. Lim lewat telepon, dia menyatakan bersedia dan silahkan Stanley kontak beliau langsung. Berapa minggu kemudian penulis menerima kabar dari Stanley yang intinya mengatakan bahwa Dr. Lim nampaknya berubah pikiran dan tidak mau melakukan hal itu lagi. Ketika ditelepon Stanley, Dr. Lim terdengar agak bimbang atau cemas. Stanley berpikiran apakah mungkin beliau takut karena ada intimidasi dari pihak tertentu. Hal itu tidak dapat kami selidiki atau pastikan karena sejak itu penulis tidak dapat menghubungi Dr. Lim lagi. Berbagai alasan diterima penulis, antara lain sedang tidur, sedang tidak ada di rumah, sedang sakit, dan lain-lain.

https://indoprogress.com/2015/09/dr-liauw-yan-siang-tak-ada-penyiksaan-terhadap-6-jenderal-bagian-2/

Shopping Basket