Wednesday, November 4, 2026

PERANCIS jajah Afrika. Sampai sekarang


 


🅙🅔🅙🅐🅚 🦶🏼🦶🏼🦶🏼🦶🏼

🅚🅞🅛🅞🅝🅘🅐🅛🅘🅢 🤛🏼



Antara tahun 1958 dan 1961, Perancis melakukan sesuatu yang mengerikan, namun tidak pernah mereka tuangkan dalam satu dokumen resmi. Perancis memaksa 14 negara Afrika untuk menandatangani apa yang kini disebut "Pakta Kelanjutan Kolonisasi Negara-Negara Afrika Francophone". Itulah harga sebenarnya yang harus mereka bayar demi kemerdekaan.

Semua bermula pada tahun 1958. Perancis sadar bahwa kerajaan kolonial lama sudah tamat. Ghana sudah lebih dulu merdeka. Aljazair sedang berperang melawan Perancis. Maka, Charles de Gaulle pun merancang rencana baru agar tetap relevan secara politik dan ekonomi. Pada 28 September 1958, ia menyuruh para pemimpin seluruh wilayah jajahan Perancis di Afrika untuk memberikan suara.

Pilihan yang harus dipilih

Pilihannya sederhana: jika kalian memilih 'ya', kalian bergabung dengan Komunitas Perancis. Kalian dapat bendera negara, bebas, kalian dapat simbol negara. Tapi Perancis tetap menguasai uang kalian, militer kalian, dan kebijakan luar negeri kalian. Jika memilih 'tidak', kalian langsung merdeka saat ini juga, tapi kami akan menarik kembali segalanya.

Dua belas pemimpin memilih 'ya'. Hanya satu orang yang berani berkata 'tidak'. Namanya Ahmed Sékou Touré dari Guinea. Ia berkata, "Kami memilih bebas dalam kemiskinan daripada kaya dalam perbudakan." Setelah itu, Guinea resmi merdeka pada 2 Oktober 1958. Dan de Gaulle pun murka. Ia ingin menghukum Guinea untuk memberi pelajaran bagi negara-negara lain.

Pada hari kemerdekaan, ia memerintahkan seluruh warga Perancis untuk hengkang dalam waktu 48 jam. Sebelum pergi, mereka menghancurkan apa saja yang bisa dihancurkan. Mereka mencabut lampu dari sekolah-sekolah. Mereka membakar obat-obatan di rumah sakit. Mereka membakar arsip kantor. Mereka memutus jaringan telepon. Mereka bahkan membawa pergi peta jaringan pipa air di Conakry, berikut pipa-pipa bawah tanahnya. Itulah peringatan keras dari Perancis.

Kemudian, mulai tahun 1960, 14 negara meraih kemerdekaan: Kamerun, Togo, Mali, Madagaskar, Benin, Niger, Burkina Faso, Pantai Gading, Chad, Kongo, Gabon, Senegal, dan Mauritania. Namun, sebelum mereka menerima bendera kebangsaannya, setiap pemimpin diterbangkan ke Paris untuk menemui satu orang: Jacques Foccart, "orang kepercayaan" de Gaulle untuk urusan Afrika.

Neokolonialisme baru

Foccart meletakkan dokumen di depan mereka yang disebut sebagai "Perjanjian Kerja Sama" dan berkata, "Tandatangani, atau kami tidak akan mengakui negara kalian." Maka, mereka semua menandatanganinya. Félix Houphouët-Boigny, Léopold Sédar Senghor, Léon Mba, Hamani Diori—semuanya.

Sekarang, apa isi dari dokumen-dokumen tersebut?

Ada empat jebakan.

Jebakan pertama: Uang. Perancis menciptakan CFA franc pada tahun 1945. Setelah kemerdekaan, mereka mempertahankannya. Mereka menempatkan bank sentral di Dakar dan Yaoundé, tapi aturannya begini: kalian harus menyimpan 100% dari cadangan devisa nya di Paris; angka ini kemudian diturunkan jadi 65%, dan sekarang 50%. Sisanya baru kalian yang menentukan. Dan jika kalian butuh lebih, kalian harus meminjam uang kalian sendiri dari Perancis, dan kalian harus membayar bunganya. Sementara itu, Perancis mengambil 85% uang tersebut dan menginvestasikannya di Perancis.

Jebakan kedua: Sumber daya. Perjanjian itu menyatakan bahwa Perancis harus mendapat hak pertama untuk membeli apa pun yang berharga yang ditemukan. Jadi, ketika Niger menemukan uranium di Arlit, perusahaan Perancis Areva (kini Orano) mulai menambangnya sejak 1968. Ketika Gabon menemukan minyak, yang mengeksploitasi adalah Elf (kini Total). Bauksit, besi, kakao, ceritanya sama persis.

Jebakan ketiga: Militer. Mereka menandatangani perjanjian pertahanan sejak tahun 1960. Isinya menyatakan bahwa pasukan Perancis boleh tetap berada di negara-negara itu dan bisa masuk kapan pun mereka mau. Dan mereka benar-benar melakukannya, lebih dari 50 kali. Di Gabon pada 1964 untuk mengembalikan Léon Mba ke kekuasaan. Di Chad empat kali. Di Republik Afrika Tengah pada 1979 untuk menggulingkan Bokassa.

Jebakan keempat: Bisnis dan pikiran. Kontrak-kontrak besar, jalan raya, pelabuhan, minyak, semuanya jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan Perancis seperti Bouygues, Bolloré, dan Total. Dan sekolah-sekolah harus menggunakan kurikulum Perancis dan berbahasa Perancis. Dan jika kalian mencoba keluar dari sistem ini, kalian akan "disingkirkan".

Sylvanus Olympio dari Togo berkata pada Januari 1963, "Kami keluar dari CFA. Kami akan mencetak uang kami sendiri." Pada 13 Januari, ia ditembak di gerbang Kedutaan AS di Lomé oleh para pasukan yang dipimpin oleh Gnassingbé Eyadéma. Eyadéma kemudian berkuasa selama 38 tahun. Modibo Keïta dari Mali keluar dari CFA pada tahun 1962. Pada 1968, ia digulingkan setelah Perancis memotong semua bantuan.

Lalu ada Thomas Sankara. Ia muncul pada 1983, di usia 33 tahun. Ia mengubah nama Volta Hulu menjadi Burkina Faso, "negeri orang-orang yang tegak". Ia memvaksinasi 2,5 juta anak dalam seminggu, menanam 10 juta pohon, menyatakan bahwa perempuan harus setara, dan ia berkata, "Kita akan berhenti membayar utang kolonial dan keluar dari CFA." Pada 15 Oktober 1987, ia dibunuh di Ouagadougou oleh sahabatnya sendiri, Blaise Compaoré, yang kemudian berkuasa selama 27 tahun dengan dukungan Perancis.

Itulah sebabnya Kwame Nkrumah berkata pada tahun 1965, "Neokolonialisme adalah ketika kalian memiliki bendera dan lagu kebangsaan, tetapi ekonomi kalian dikendalikan dari luar." Coba pikirkan. Bagaimana kalian bisa membangun pabrik jika kalian tidak bisa menyentuh uang kalian sendiri? Bagaimana kalian bisa membangun kilang minyak jika 85 persen uang hasil ekspor kalian ada di Paris? Niger menjual uranium senilai 3,5 miliar euro per tahun, tetapi pada 2023, hanya 15% warga Niger yang memiliki akses listrik.

Sekarang, jika kalian pergi ke arsip Perancis, kalian tidak akan menemukan satu pun file bernama "Pakta Kelanjutan Kolonisasi". Foccart terlalu cerdik untuk melakukan itu. Pakta itu diwujudkan melalui banyak perjanjian pada 1960 dan 1961 yang melakukan tugas yang sama secara bersamaan. Dan pakta ini bertahan hingga 2022 dan 2023, ketika Mali, Burkina Faso, dan Niger kembali berkata "tidak".

Pada 30 September 2022, seorang Kapten berusia 34 tahun, Ibrahim Traoré, mengambil alih Burkina Faso. Semangat yang sama seperti Sankara. Baret merah yang sama. Pembicaraan tentang kedaulatan yang sama. Pada 18 Januari 2023, ia menyuruh pasukan Perancis untuk pergi.

Pada 1958, Sékou Touré berkata tidak, dan mereka menghancurkan Conakry. Pada 1987, Sankara berkata tidak, dan mereka membunuhnya. Pada 2023, Traoré berkata tidak lagi. Sejak saat itu, pemerintahannya menyatakan telah menggagalkan empat plot pembunuhan terhadapnya, yang terbaru pada 6 Januari 2026.

Jadi, pertanyaannya kini bukan lagi apakah pakta itu ada. Pertanyaannya adalah: akankah Afrika akhirnya dapat menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Sékou Touré pada tahun 1958?

Negara-negara kolonial barat, di sini Perancis, memang baji*gan.

Seberapa miskin Republik Afrika Tengah?

  • GDP per kapita hanya sekitar $600–700 per tahun (1/8 Indonesia)
  • Tingkat kemiskinan ekstrem sangat tinggi: sekitar 66–70% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem (World Bank, sekitar $3/hari PPP). Angka nasional bahkan lebih tinggi di daerah pedesaan.

Madagaskar dan Niger juga termasuk yang paling miskin di dunia (dan di Afrika), dengan GDP per kapita di bawah $1.000 dan tingkat kemiskinan ekstrem yang tinggi. Gabon dan Pantai Gading jauh lebih baik berkat sumber daya alam (minyak, kakao, dll.).

No comments:

Post a Comment