Monday, January 12, 2026

Paus Leo mengaum

 


Paus Leo Mengecam “Semangat Perang” Dunia dalam Pidato Keras di Vatikan

Ringkasan

  • Paus Leo menyampaikan pidato tahunan pertamanya kepada para diplomat di Vatikan
  • Leo, Paus pertama asal AS, mengecam penggunaan militer untuk tujuan diplomatik
  • Paus mendesak pemerintah untuk “menghormati kehendak” rakyat Venezuela

VATIKAN, 9 Jan (Reuters) – Paus Leo pada hari Jumat mengecam penggunaan kekuatan militer sebagai sarana untuk mencapai tujuan diplomatik, dalam pidato kebijakan luar negeri tahunan yang luar biasa keras, di mana ia juga menyerukan agar hak asasi manusia dilindungi di Venezuela.

Leo, Paus pertama asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa lemahnya organisasi-organisasi internasional dalam menghadapi konflik global merupakan “alasan khusus untuk keprihatinan”.

“Diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi yang berbasis pada kekuatan,” kata Leo kepada sekitar 184 duta besar yang terakreditasi di Vatikan.

“Perang kembali menjadi tren, dan semangat untuk berperang sedang menyebar,” kata Leo, yang terpilih menjadi Paus pada bulan Mei.

“HORMATI KEHENDAK” RAKYAT VENEZUELA, KATA LEO

Merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS atas perintah Presiden Donald Trump akhir pekan lalu, Paus menyerukan agar pemerintah-pemerintah dunia “menghormati kehendak” rakyat Venezuela ke depan.

Negara-negara harus “melindungi hak asasi manusia dan hak-hak sipil” rakyat Venezuela, tambah Leo.

Komentar Leo tersebut merupakan bagian dari pidato yang kadang disebut sebagai pidato Paus tentang “keadaan dunia”. Ini adalah pidato pertama yang disampaikan oleh Leo, yang terpilih setelah wafatnya Paus Fransiskus.

Baik duta besar Amerika Serikat maupun Venezuela untuk Tahta Suci termasuk di antara para hadirin dalam acara tersebut.

Leo, yang sebelumnya adalah Kardinal Amerika Serikat Robert Prevost, selama puluhan tahun bertugas sebagai misionaris di Peru sebelum menjadi Paus. Ia sebelumnya pernah mengkritik beberapa kebijakan Trump, khususnya mengenai imigrasi, tetapi tidak menyebutkan nama presiden AS itu secara langsung dalam pidato hari Jumat.

Selama delapan bulan pertama masa kepausannya, Leo menunjukkan nada yang lebih tenang dan diplomatis dibandingkan pendahulunya, Fransiskus, yang sering menjadi sorotan media karena komentar spontan.

LEO MENGGUNAKAN NADA YANG LEBIH KERAS

Namun dalam pidato berdurasi 43 menit pada hari Jumat, Leo menggunakan nada yang lebih keras — dengan tegas mengecam konflik-konflik yang terus berlangsung di dunia, sekaligus mengecam praktik aborsi, eutanasia, dan kelahiran melalui ibu pengganti (surrogate).

Dalam bahasa yang jarang digunakan oleh seorang Paus, Leo juga memperingatkan bahwa kebebasan berekspresi sedang “menyusut dengan cepat” di negara-negara Barat.

“Sedang berkembang suatu bahasa bergaya Orwell yang baru, yang dalam upaya untuk menjadi semakin inklusif, justru berakhir dengan mengecualikan mereka yang tidak sejalan dengan ideologi-ideologi yang mendorongnya,” katanya.

Paus juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai “bentuk diskriminasi agama yang halus” yang dialami oleh umat Kristen di Eropa dan di seluruh kawasan Amerika.


https://www.reuters.com/world/europe/pope-leo-decries-diplomacy-based-force-speech-vatican-envoys-2026-01-09/

Thursday, January 8, 2026

Kasih sayang kakak pada adiknya


Agustus 1905. Ruth Patterson umur empat belas tahun ketika dia membuat keputusan yang akan mengubah kehidupannya dan  adiknya selamanya.

Kedua orang tua mereka tewas dalam kebakaran rumah petak mereka. Ruth dan adik laki-lakinya Daniel yang baru berusia enam minggu dikirim ke sebuah panti asuhan di New York. Di sana, Ruth menerima kabar yang menghancurkan: panti itu tidak akan menempatkan seorang bayi dan seorang remaja bersama. Daniel akan dikirim ke tempat lain sampai cukup besar untuk diadopsi. Ruth akan ditempatkan sendirian.

Ruth menolak. Berontak. 

Pada pagi hari kereta api berangkat menuju Nebraska, Ruth mencuri Daniel dari ruang bayi dan menyembunyikannya di dalam sebuah tas besar dari kulit. Pengasuh mengira tas itu hanya berisi sedikit barang milik Ruth. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Ruth diam-diam telah melubangi bagian bawah tas itu untuk memberi jalan napas bagi adiknya.

Selama tiga hari, Ruth menyembunyikan adik bayinya di dekat kakinya. Ia berhasil menjaga Daniel tetap sangat tenang saat naik kereta, menenangkannya di gerbong yang berguncang, memberinya makan saat kereta berhenti malam hari, dan menggantikan popoknya di kamar kecil kereta setiap kali ada kesempatan. Setiap saat ia takut ketahuan—karena itu berarti dikirim kembali ke New York dan dipisahkan selamanya.

Bayi Daniel tidak pernah ditemukan.

Di sebuah stasiun di Nebraska, sepasang petani, keluarga Johnson, memilih Ruth untuk diasuh mereka karena terkesan oleh kekuatan dan kedewasaannya. Mereka menaikkan Ruth dan tas nya ke gerobak dan membawanya pulang. Setelah tiba di ladang pertanian, n baru lah Ruth membuka tas itu—dan memperlihatkan bayi Daniel di dalamnya.

Johnson dan  istrinya terkejut.

Dengan gemetar, Ruth menceritakan semuanya: kebakaran, aturan panti asuhan, pencurian, penyembunyian, dan ketakutannya kehilangan adiknya. Ia memohon agar mereka tidak mengirim Daniel kembali sendirian. Ketika pasangan itu memandang bayi tersebut—dan wajah Ruth yang kelelahan—mereka melihat bukan penipuan, melainkan cinta kasih yang putus asa.

Setelah berdiskusi singkat, mereka membuat keputusan.

“Kami dikirimi dua anak,” kata mereka. “Kami akan membesarkan keduanya.”

Sebuah foto tintype yang diambil hari itu juga menunjukkan Ruth, usia empat belas tahun, menggendong Daniel yang berusia enam minggu, berdiri di samping tas yang telah menyelamatkan nyawanya. Wajahnya menunjukkan kelegaan murni. Di belakang mereka, keluarga Johnson tersenyum—yang semula bersiap menerima satu anak dan memilih membuka hati untuk dua.

Ruth dan Daniel dibesarkan bersama di pertanian keluarga Johnson. Daniel memakai nama keluarga Johnson tetapi selalu mengetahui nama lahirnya—dan fakta: bahwa kakaknya telah mempertaruhkan segalanya demi menjaganya tetap aman. Ruth kemudian menikah dan tetap dekat dengan Daniel sepanjang hidupnya. Keluarga Johnson tidak pernah melaporkan tindakan Ruth, karena mereka percaya cinta lebih penting daripada aturan.

Ruth hidup sampai usia 87 tahun dan meninggal pada 1978. Daniel meninggal pada 1974 di usia 69 tahun. Mereka berbagi hampir tujuh dekade bersama karena seorang gadis remaja menolak membiarkan adiknya direnggut darinya—dan karena satu keluarga memilih belas kasih daripada kemudahan.

Dalam sebuah kesaksian pada tahun 1975, Ruth berkata sederhana:

“Foto itu menunjukkan seperti apa rupa cinta. Keputusasaan untuk tetap bersama. Kemurahan hati untuk merawat seorang bayi yang sebenarnya tidak kamu harapkan.”

** Dari Facebook.