Berikut perbandingan ringkas angka 1–10 antara bahasa Jawa dan bahasa Amis (Taiwan):
Angka
Jawa
Amis
1
siji
cidal
2
loro
dusa
3
telu
telu
4
papat
sepat
5
lima
lima
6
enem
enem
7
pitu
pito
8
wolu
walu
9
sanga
siwa
10
sepuluh
pulo
🟢 Catatan:
Mulai angka 3 sampai 8, kemiripan bunyi sangat tinggi — telu/telu, papat/sepat, lima/lima, enem/enem, pitu/pito, wolu/walu — menunjukkan hubungan langsung dalam rumpun Austronesia purba.
Perbandingan angka 1–10 antara empat bahasa Austronesia: Amis (Taiwan timur), Paiwan (Taiwan selatan), Tagalog (Filipina), dan Jawa (Indonesia tengah):
Angka
Amis
Paiwan
Tagalog
Jawa
1
cidal
'itsa
isa
siji
2
dusa
dusa
dalawa
loro
3
telu
turu
tatlo
telu
4
sepat
sepat
apat
papat
5
lima
lima
lima
lima
6
enem
enem
anim
enem
7
pito
pitu
pito
pitu
8
walu
walu
walo
wolu
9
siwa
siwa
siyam
sanga
10
pulo
sapulu
sampu
sepuluh
Terlihat jelas bahwa pola dasarnya sangat mirip, terutama pada angka 3–8.
Bahasa Jawa dan Tagalog mempertahankan bentuk yang hampir sama dengan bahasa Formosan (Amis, Paiwan) — bukti kuat bahwa semuanya memang berasal dari satu rumpun Austronesia purba.
Bu Sumarni, 72 tahun, dulu lincah. Ia masih menyapu halaman, menyiram tanaman, dan ikut arisan. Beberapa bulan terakhir, ia mulai sering mengeluh nyeri di punggung bawah. Keluarga mengira pegal biasa. Obat gosok, koyo, pijat—semua dicoba. Saat akhirnya ke dokter, diagnosis awal pun hanya nyeri pinggang karena aktivitas; diberi obat antinyeri dan disuruh istirahat.
Mula-mula nyeri datang dan pergi. Lama-lama seperti menusuk. Geraknya makin pelan. Suatu pagi, saat hendak mengambil piring, ia merasa tubuhnya tak lagi tegak. Tulang belakangnya terasa tertarik ke depan. Bungkuk. Pemeriksaan lanjut menunjukkan osteoporosis dengan satu tulang belakang remuk—gejala yang semula mirip pegal biasa.
Berapa banyak lansia seperti Bu Sumarni yang tulangnya mulai rapuh? Apakah keluarga mengenali tanda-tandanya, atau sekadar berkata, "Namanya juga sudah tua…"?
Apa Itu Osteoporosis? Tulang Bisa Keropos Tanpa Terasa?
Tulang itu hidup dan terus
berubah. Seiring usia, pembentukan tulang melambat sementara pengikisannya lebih
cepat. Hasilnya, tulang menjadi rapuh dan berpori—itulah osteoporosis. Yang menakutkan,
di awal biasanya tidak terasa apa-apa. Tiba-tiba tulang bisa retak hanya karena
membungkuk atau batuk keras.
Siapa yang Paling Berisiko?
Wanita: 4-5 kali lebih sering dibanding pria. Satu dari tiga wanita Indonesia mengalami
osteoroposis setelah menopause.
Riwayat keluarga: Kadang sangat menentukan. Kalau ada keluarga yang osteoporosis, hati-hati.
Kurang bergerak meningkatkan risiko. Lansia mandiri kadang mengabaikan gejala; lansia yang banyak
duduk/berbaring lebih berisiko karena tulang tidak diberi beban.
Kasus A
Kasus B
Pak Wiryo (74), jalan pagi 15 menit, kadang pegal tapi tetap aktif.
Bu Ratna (68), lebih banyak duduk karena takut jatuh; otot makin kaku.
Lebih berisiko: Kasus B. Tulang yang tidak diberi beban justru cepat rapuh—ibarat rumah kosong
yang cepat lapuk.
Mengapa Harus Peduli? Bukankah Patah Tulang Bisa Disembuhkan?
Patah tulang pada lansia bukan sekadar dioperasi. Banyak yang setelah patah tidak bisa kembali
mandiri, membutuhkan bantuan terus-menerus, dan berisiko komplikasi.
Fokus utama: bukan hanya "bisa sembuh atau tidak", tapi "apakah setelah patah lansia masih
bisa hidup mandiri?"
Apa Tanda Tulang Mulai Rapuh? Beda dari Pegal Biasa?
Tinggi badan berkurang 2–5 cm perlahan.
Punggung membungkuk atau muncul punuk kecil.
Nyeri saat berdiri lama atau bangun dari duduk.
Baju/celana lama terasa longgar di bahu/pinggang karena bentuk tulang berubah.
Contoh: Pak Suyono (74) mengeluh punggung "seperti ditarik ke depan". Awalnya dikira salah
tidur; ternyata ada fraktur kompresi, tulang belakang remuk, akibat osteoporosis, meski tidak pernah jatuh keras.
Kenapa Jatuh Sedikit Bisa Jadi Masalah Besar?
Pada tulang rapuh, jatuh sedikit bisa memicu patah panggul, pergelangan tangan, atau tulang
belakang.
Dampak psikologis: lansia jadi takut bergerak. Keluarga lalu terlalu protektif. Akhirnya,
tulang makin lemah dan otot mengecil—lingkaran setan yang berbahaya.
Istilah kunci:Fear of Falling Syndrome—takut jatuh
yang justru mempercepat kelemahan.
Apa Peran Caregiver & Keluarga? Bagaimana Melindungi Tanpa Membatasi?
Tugas utama bukan hanya memberi obat, tapi menjaga martabat dan kepercayaan diri lansia agar
mau bergerak.
Luruskan info keliru di medsos:
❌ "Lansia jangan naik tangga."
✅ "Lansia boleh latihan naik tangga dengan pengawasan ketat, didampingi
keluarga/caregiver, pegangan kokoh, dan langkah perlahan."
Jangan Ucapkan
"Sudah, duduk saja!"
"Nanti jatuh lho!"
"Jangan jalan, nanti capek."
Ganti Dengan
"Boleh, saya dampingi ya, pelan-pelan."
"Pegangan railing/tangan saya, kita coba satu langkah."
"Kita jalan sebentar lalu istirahat minum teh."
Latihan Fisik: Boleh atau Berbahaya?
Gerak aman lebih baik daripada diam total. Prinsipnya: pengawasan, ritme pelan, dan konsisten.
Latihan
Untuk Lansia Mandiri
Untuk Lansia dengan Pendamping
Berdiri–duduk dari kursi
Tanpa pegangan jika mampu.
Caregiver di samping; kursi kokoh bersandaran.
Jalan pelan di rumah
Jalur tetap, lantai tak licin.
Caregiver memegang siku sebagai pengaman.
Naik satu anak tangga
Gunakan railing.
Caregiver berdiri di belakang.
Peregangan ringan
Bisa mengikuti video sederhana.
Duduk di kursi; gerakan dipandu perlahan.
Lebih baik 1–2 menit tiap jam daripada duduk 5 jam lalu olahraga sekali
lama.
Bagaimana dengan Makanan, Kalsium & Vitamin?
Kalsium
Usahakan asupan banyak kalsium lewat gizi atau makanan
Sumber Kalsium
Kebiasaan Dianjurkan
Ikan teri, sarden, bandeng/ayam presto (dimakan dengan tulang)
Jadikan lauk rutin, bukan tambahan semata.
Tempe, tahu, kacang-kacangan
Usahakan makan tiap hari.
Sayur hijau (bayam, daun kelor, dll.)
Usahakan rutin.
Produk susu/yogurt
Sumber penting. Kalau tidak tahan susu, minum sedikit-sedikit. Jangan sekaligus. Penyerapan kalsium sama.
Jarang yang mengeluh diare karena makan es krim, bukan? Meski biasanya mengandung susu.
Penderita osteoporosis dianjurkan makan suplemen kalsium sekitar 1000 -1200 mg/hari. 1000 mg mestinya cukup. Makan suplemen bersama makanan. Dan jangan dimakan sekaligus; pecah menjadi 2 - 3 bagian. Jangan lebih dari 500 mg tiap kali.
Hal penting lain yang sering tidak diketahui orang awam adalah: jumlah miligram di atas adalah untuk kalsium murninya (elemental). Bukan senyawa kalsium. Tablet kalsium laktat 500 mg yang banyak dijual itu hanya mengandung 65 mg kalsium elemental. Jauh dari cukup.
Vitamin D3 (Endocrine Society, AS): lansia sehat di bawah 75 tahun, tidak harus makan suplemen vitamin D. Usahakan memperoleh 800–1.000
IU/hari dari paparan matahari dan makanan. Tapi sebagian wanita sangat perhatian pada kulit. Sinar matahari merusak kulit, meski cuma 5 menit. Ini menjadi buah simalakama. Untuk mereka suplemen terpaksa dimakan.
Jika makan suplemen, suplemen harian
rutin lebih baik daripada "dosis tinggi sesekali".
Hal di atas diambil dari pedoman. Menurut penulis pribadi, kalau ada risiko osteoporosis, khususnya ada riwayat keluarga, lebih baik langsung makan suplemen vitamin D 1000 IU, meski belum berusia 75 tahun.
Usia 75 tahun ke atas, kalau sehat, makan suplemen 800 - 1000 IU/hari. Tidak
perlu 5000 IU ke atas.
Vitamin K/K2: membantu mengarahkan kalsium ke tulang; bisa dari tempe, kuning telur, yoghurt, keju fermentasi.
Opsional, bukan wajib, terutama bila pola makan sudah beragam.
Pemeriksaan kadar vitamin D:Tidak Dianjurkan untuk semua lansia.
Tidak perlu. Fokus pada paparan matahari dan asupan teratur; tes hanya bila dicurigai defisiensi berat atau
sesuai saran dokter.
Perlukah Obat? Apakah Susu & Vitamin Saja Cukup?
Cukup nutrisi + latihan bila belum pernah patah, postur masih stabil, dan nyeri tidak berat.
Konsultasi dokter bila sudah patah, bungkuk cepat, atau nyeri punggung tajam tak membaik;
dokter dapat mempertimbangkan obat (mis. bisfosfonat).
Intervensi
Fungsi
Kapan
Obat dokter
Memperlambat pengeroposan
Risiko tinggi / sudah patah
Suplemen D & kalsium
Menunjang pembentukan tulang
Sejak dini
Latihan fisik
Memberi sinyal "dipakai" ke tulang & otot
Wajib untuk semua
Obat mencegah tulang makin rapuh; latihan membuat tubuh tetap kuat. Keduanya saling
melengkapi.
Bagaimana Membuat Rumah Aman tanpa Membuat Lansia Merasa "Dikurung"?
Tujuan penyesuaian rumah adalah membebaskan gerak sekaligus mengurangi risiko jatuh.
Area
Penyesuaian
Lantai
Alas kaki anti-slip; hindari karpet kecil yang mudah tergeser.
Tangga
Pasang railing kuat (idealnya di dua sisi), bukan dikunci.
Kamar mandi
Pegangan dinding, alas anti-slip, kursi mandi bila perlu.
Pencahayaan
Pastikan terang, terutama jalur ke kamar mandi malam hari.
Jalur jalan
Rapikan kabel, pot, meja kecil yang menghalangi.
Kursi
Pilih yang kokoh dan tinggi dudukan pas agar mudah berdiri.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjatuh? IGD atau Observasi?
Tenangkan. Jangan langsung mengangkat; beri waktu identifikasi nyeri.
Tanya: "Bagian mana yang sakit? Bisa gerakkan kaki/tangan?"
Jangan menarik pinggang/punggung. Bila perlu bantu bangun, topang bahu & panggul
bersamaan. Kalau bisa, angkat oleh 3 orang.
Amati beberapa jam. Jika nyeri tajam di tangan/punggung/panggul atau sulit berdiri →
ke IGD, meski masih bisa berjalan.
Retakan kecil tulang belakang bisa tidak terlihat dari luar dan baru membuat bungkuk
beberapa hari kemudian. Bungkuk harus cepat diatasi (kalau perlu, disuntik semen) sebelum tulang menyatu.
Bagaimana Menjaga Semangat Lansia Setelah Jatuh?
Gunakan kalimat menenangkan: "Saya di sini, pelan-pelan saja."
Rayu, bukan perintah: "Coba beberapa langkah, lalu duduk lagi."
Pujian kecil setiap kemajuan.
Berikan alasan bermakna untuk bergerak (menyiram tanaman, lihat cucu, jemur pagi).
Lansia tidak butuh dipaksa bergerak; mereka butuh alasan untuk bergerak.
Perlukah Periksa Kepadatan Tulang & Vitamin D?
BMD (Bone Mineral Density, kepadatan mineral tulang) berguna kalau ada riwayat keluarga osteoporosis atau bila sudah jatuh/patah, bungkuk
cepat, atau nyeri punggung tajam. Jika masih aktif dan stabil, pencegahan bisa dimulai tanpa tes.
Pemeriksaan vitamin D:Tidak Dianjurkan untuk semua. Tidak guna. Cukup asupan
teratur + matahari; tes hanya bila dicurigai kekurangan berat atau atas saran dokter.
Rutinitas Minimal yang Realistis di Rumah
Langkah
Frekuensi
Jalan 1–2 menit tiap jam
Konsisten setiap hari
Paparan matahari pagi
10–15 menit
Vitamin D
800–1.000 IU/hari
Berdiri-duduk dari kursi
3–5 kali, dua kali sehari
Bahasa penguat
"Saya dampingi, pelan-pelan."
Penutup & Ringkasan Praktis
Yang paling ditakuti lansia bukan tulang rapuh, melainkan kehilangan kemandirian. Satu kalimat
yang tepat bisa menyalakan semangat; satu larangan berlebihan bisa memadamkannya.
Inti: Merawat lansia bukan sekadar menjaga agar tidak jatuh, tetapi menjaga agar
mereka tetap ingin bangun.
Ringkasan Penting
Dianjurkan Gerak ringan rutin • Sinar matahari 10–15 menit • Vitamin D 800–1.000 IU/hari • Rumah ramah lansia • Bahasa penguat • Pendampingan, bukan larangan • Bila lansia sakit punggung atau pinggang, ingat kemungkinan patah
"Tulang bukan hanya dijaga agar tidak rapuh, tetapi beri alasan untuk tetap hidup bermakna."