Thursday, August 28, 2025

Nas dan Yuval Harari tentang Ateisme

 


Dua orang Israel.. Yang satu Palestina, Islam. Yang lain Yahudi yang pindah ke "agama baru", ateisme. Berbincang mengenai itu.

Nas: Saya menghabiskan satu bulan penuh untuk mempelajari “agamanya,” yaitu ateisme.

Yuval: Halo, nama saya Yuval Noah Harari dan saya seorang ateis. Saya tidak percaya pada Tuhan.

Nas:

Tapi saya percaya. Jadi, apa yang bisa saya pelajari darinya?

Selama sebulan penuh, saya membaca buku-buku ateis, saya berbicara dengan para sarjana ateis, bahkan saya naik pesawat dan bepergian jauh ke sebuah pulau terpencil di tengah lautan, di sini…

untuk mempelajari satu burung ini. Ya, inilah burung yang menginspirasi jutaan ateis. Hanya satu burung di Kepulauan Galapagos. Inilah burung itu di alam liar. Bisa lihat? Indah sekali.

Tapi pertama, sedikit latar belakang.

Saya sedang menjalani tantangan enam bulan untuk mempelajari enam agama besar, satu setiap bulan: Buddhisme, Hinduisme, Yudaisme, Kristen, Islam, dan bahkan Ateisme.

Inilah yang saya pelajari dari Ateisme.

Pertama-tama, ateisme bukanlah agama. Saya setuju. Tapi ia adalah sebuah gerakan. Lebih dari 1 miliar orang adalah ateis. Mereka tidak percaya pada agama. Banyak dari mereka justru percaya pada sains.

Yuval: Saya pikir menjadi orang baik tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Kamu bisa percaya, bisa tidak percaya, tidak masalah. Menjadi orang baik berarti membebaskan diri dan orang lain dari penderitaan.

Nas. Gerakan ateis meledak pada tahun 1850-an ketika buku ini diterbitkan. Judulnya The Origin of Species karya Charles Darwin.

Darwin adalah seorang ilmuwan Inggris yang berlayar selama lima tahun untuk mempelajari dunia. Suatu hari, kapalnya tiba di pulau-pulau terpencil Galapagos, Ekuador.

Di sana, Charles Darwin melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat bahwa burung yang sama berubah sesuai dengan pulau tempat ia hidup. Di satu pulau, burung ini memiliki paruh besar dan memakan tumbuhan. Di pulau lain, burung yang sama memiliki paruh kecil dan bukan vegetarian.

Bentuk burung berubah sesuai lingkungannya. Hal ini mengejutkan Darwin.

Mengapa burung itu berevolusi? Saat itulah Darwin membuat penemuan terbesarnya.

Ia menemukan bahwa hewan tidak lahir dalam keadaan sempurna. Hewan berevolusi seiring waktu. Sayap, warna, dan ukurannya berubah dari generasi ke generasi agar bisa bertahan hidup. Dan jika hewan berevolusi,

mungkin manusia juga. Mungkin kita tidak lahir sempurna seperti Adam dan Hawa. Mungkin manusia berevolusi dari kera. Banyak perubahan kecil menciptakan perubahan besar. Jadi jika orang bertanya, “Dari mana asal manusia?” Kita tidak muncul dari satu momen ajaib ketika Tuhan menciptakan manusia. Selama miliaran tahun, banyak sekali perubahan kecil yang terjadi.

Itulah bagaimana Darwin menemukan teori evolusi.

Teori ini mengguncang dunia. Ia bertentangan dengan semua ajaran agama. Bertentangan dengan Kekristenan. Bertentangan dengan Islam. Tapi teori Darwin didasarkan pada bukti yang bisa diukur dan dilihat dengan mata kepala sendiri. Teori itu membuat orang semakin kurang percaya pada agama dan lebih percaya pada sains.

Hal itu membuat ateisme berkembang pesat. Walaupun ateisme sudah ada jauh sebelum Darwin.

Muslim memiliki Al-Qur’an dan Kristen memiliki Alkitab.

Nas (bertanya kepada Yuval):

Apa kitabmu?

Yuval:

Alam semesta ini. Darwin misalnya pergi ke Galapagos dan mempelajari seekor burung.

Siapa yang tahu misteri apa lagi yang bisa kita temukan jika kita mempelajari pohon ini, atau batu ini, atau kupu-kupu ini.

Sains lebih baik dalam memberi jawaban karena ia berani mengakui kesalahannya.

Orang berpikir bahwa jika kamu mengubah pendapatmu, itu artinya kamu lemah.

Tapi dalam sains, jika kamu mengubah pendapatmu, itu artinya kamu semakin dekat pada kebenaran.

Nas:

Saya pikir itulah yang paling saya sukai dari Ateisme. Bahwa kamu bisa hidup tanpa jawaban sempurna. Kamu bisa menerima bahwa ada hal-hal yang tidak kamu ketahui. Kamu bisa menunggu sains untuk menemukan jawabannya.

Saya seorang yang beriman. Tetapi satu bulan belajar Ateisme membuat saya lebih rendah hati.

Membuat saya sadar bahwa mungkin, hanya mungkin, saya juga bisa salah.

Itulah yang bisa kita pelajari dari satu burung di Galapagos.




Tuesday, August 19, 2025

Penarikan udang Indonesia di AS

 


Penjelasan tentang kasus recall udang radioaktif dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods) asal Indonesia di Amerika. 


1. Bagaimana Kasusnya?

  • Pada 19 Agustus 2025, FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat mengeluarkan recall (penarikan) terhadap udang mentah beku merek Great Value yang dijual di Walmart di 13 negara bagian AS. Alasannya: potensi kontaminasi Cesium-137, isotop radioaktif.(AP News, People.com)

  • Deteksi awal dilakukan oleh U.S. Customs and Border Protection (CBP) di beberapa pelabuhan—termasuk Los Angeles, Miami, Houston, dan Savannah—yang menemukan Cs-137 dalam beberapa kontainer pengiriman dari BMS Foods.(AP News, Food Safety News)

  • FDA kemudian mengambil sampel. Satu contoh udang breaded diuji positif Cs-137, meskipun levelnya jauh di bawah batas intervensi FDA (1200 Bq/kg). Namun, FDA tetap menganggap bahwa paparan berkepanjangan terhadap dosis rendah dapat meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang.(AP News, Food Safety News, cbsnews.com)

  • Lot yang ditarik mencakup kode: 8005540-1, 8005538-1, dan 8005539-1, dengan tanggal “best-by” 15 Maret 2027. Produk ini dijual di Walmart di negara bagian seperti Texas, Florida, Pennsylvania, dan lainnya.(AP News, People.com, The Economic Times, The Sun)

  • FDA juga memberlakukan import alert, melarang masuknya semua produk dari BMS Foods ke AS hingga masalah teratasi.(The Sun, People.com, Food Safety News)


2. Dari Mana Udang Tersebut Diambil?

Udang tersebut diimpor dari Indonesia, khususnya diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati, yang menggunakan merek dagang BMS Foods. Produk tersebut dikemas sebagai Great Value dan dikirim ke Walmart di AS.(AP News, newsweek.com, Food Safety News)


3. Apakah Udang Ini Juga Dijual di Indonesia?

Tidak ada indikasi bahwa udang yang ditarik ini juga beredar di pasar Indonesia. Studi dan tindakan yang dilakukan fokus pada pengiriman ke AS dan belum ada laporan tentang distribusi di dalam negeri. Namun, untuk keamanan, otoritas pangan Indonesia—seperti BPOM—umumnya akan memantaunya dan melakukan pengecekan jika ada potensi risiko serupa.


4. Udang Besar vs Kecil: Mana yang Lebih Banyak Terkena Kontaminasi Secara Teoretis?

Tidak ada data spesifik tentang perbandingan antara udang besar dan kecil dalam kasus ini. Namun secara teori:

  • Cesium-137 cenderung tersebar secara merata dalam jaringan lunak, menyerupai potasium. Jadi, ukuran udang (besar atau kecil) kemungkinan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kontaminasi per beratnya.(Wikipedia)

  • Jadi, kontaminasi lebih tergantung pada kondisi pengolahan, bukan ukuran individu udang.


5. Bagaimana Cara Masyarakat Indonesia Berjaga-jaga?

Sebagai masyarakat Indonesia, meskipun tidak ada bukti produk yang sama beredar di sini, langkah berjaga-jaga yang disarankan:

  1. Cek Label dan Asal Produk
    Hindari membeli produk yang berasal dari BMS Foods, dan pastikan ada label asal yang jelas jika membeli udang beku impor.

  2. Pantau Informasi Resmi
    Ikuti update dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) atau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) via situs resmi atau media pemerintah untuk memastikan keamanan produk impor.

  3. Perhatikan Kebersihan dan Penyimpanan
    Pilih produk yang terjamin kebersihannya, dan simpan sesuai instruksi. Jika mencurigai produk tidak layak, sebaiknya tidak dikonsumsi.

  4. Diversifikasi Konsumsi
    Mengurangi risiko dengan tidak mengandalkan satu produk dalam diet secara berlebihan, terutama produk impor.

  5. Hubungi Profesional Kesehatan Bila Perlu
    Bila merasa khawatir atas paparan radioaktif (terlepas dari kasus ini), konsultasikan dengan penulis.


Ringkasan Singkat

  • Kasus: Recall udang beku Great Value karena Cs-137 terdeteksi di satu sampel.(AP News, People.com, Food Safety News)

  • Asal: Diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods), Indonesia.(AP News, newsweek.com)

  • Indonesia: Belum ada bukti produk ini diedarkan di Indonesia. Belum diketahui di mana udang ditangkap.

  • Ukuran udang: Tidak menjadi faktor kontaminasi secara teoritis.

  • Untuk masyarakat Indonesia: Jangan terlalu sering makan seafood sampai masalah jelas.